Rupiah Diprediksi Tak Akan Menguat di Bawah Rp13.000/USD
Selasa, 20 Oktober 2015 - 17:09 WIB
Rupiah Diprediksi Tak Akan Menguat di Bawah Rp13.000/USD
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Aviliani memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak akan bisa menguat hingga di bawah level Rp13.000/USD.
Dia menyampaikan, jika sampai mata uang Garuda berada di bawah Rp13.000/USD maka harus didukung melimpahnya mata uang Negeri Paman Sam di dalam negeri. (Baca: Euro Pulih terhadap USD, Rupiah Berakhir Terpuruk)
"(Rupiah) Tidak akan di bawah Rp13.000/USD pada tahun depan, kecuali ada cetak uang USD gede-gedean baru bisa kita bisa masuk ke level tersebut," ujarnya di Jakarta, Selasa (20/10/2015).
Menurut komisaris independen Bank Mandiri tersebut, rupiah paling mungkin menguat di level Rp13.300/USD karena belum ada indikasi masuknya USD dalam jumlah besar.
"Walaupun bisa menguat, mentok di Rp13.300. Menguat atau melemah tergantung uang (USD) yang masuk ke sini," jelas Aviliani.
Dia membandingkan, saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), USD mudah masuk ke dalam negeri ketika pemerintah mengeluarkan surat utang negara dan memilih untuk memegangnya.
"Kalau dulu zaman SBY, orang asing beli ORI (surat utang) tidak dijual lagi. Sekarang orang asing ada yang menjual kembali. Kebijakan stabilkan rupiah sulit karena tergantung dengan USD yang masuk dan keluar," pungkasnya.
Dia menyampaikan, jika sampai mata uang Garuda berada di bawah Rp13.000/USD maka harus didukung melimpahnya mata uang Negeri Paman Sam di dalam negeri. (Baca: Euro Pulih terhadap USD, Rupiah Berakhir Terpuruk)
"(Rupiah) Tidak akan di bawah Rp13.000/USD pada tahun depan, kecuali ada cetak uang USD gede-gedean baru bisa kita bisa masuk ke level tersebut," ujarnya di Jakarta, Selasa (20/10/2015).
Menurut komisaris independen Bank Mandiri tersebut, rupiah paling mungkin menguat di level Rp13.300/USD karena belum ada indikasi masuknya USD dalam jumlah besar.
"Walaupun bisa menguat, mentok di Rp13.300. Menguat atau melemah tergantung uang (USD) yang masuk ke sini," jelas Aviliani.
Dia membandingkan, saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), USD mudah masuk ke dalam negeri ketika pemerintah mengeluarkan surat utang negara dan memilih untuk memegangnya.
"Kalau dulu zaman SBY, orang asing beli ORI (surat utang) tidak dijual lagi. Sekarang orang asing ada yang menjual kembali. Kebijakan stabilkan rupiah sulit karena tergantung dengan USD yang masuk dan keluar," pungkasnya.
(rna)