Shell Catat Rugi Bersih Terbesar dalam Satu Dekade Terakhir

Kamis, 29 Oktober 2015 - 15:53 WIB
Shell Catat Rugi Bersih...
Shell Catat Rugi Bersih Terbesar dalam Satu Dekade Terakhir
A A A
DEN HAAG - Royal Dutch Shell Plc melaporkan kerugian bersih terbesar dalam satu dekade terakhir karena turunnya nilai aset dan rendahnya ekpektasi harga minyak.

Perusahaan, yang membeli BG Group Plc dalam kesepakatan terbesar di industri perminyakan tahun ini, melaporkan kerugian bersih kuartal III sebesar USD7,42 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang membukukan laba USD4,46 miliar.

Itu karena dibutuhkan dana mencapai USD7,89 miliar untuk penghentian eksplorasi lepas pantai Alaska dan proyek pasir minyak Kanada. Sementara laba bersih selama tiga bulan di kuartal III jatuh 70% menjadi USD1,8 miliar. Angka itu di bawah perkiraan 17 analis yang disurvei Bloomberg, sebesar USD2,92 miliar.

Produsen minyak terbesar di Eropa tersebut telah memangkas jumlah tenaga kerja dan belanja tahun ini karena Kepala Eksekutif Royal Dutch Shell Plc Ben Van Beurden mempersiapkan perusahaan untuk stagnasi pasar lama.

Penurunan harga minyak mentah dalam 16 bulan terakhir telah melukai industri, mendorong nilai pasar Shell ke level terendah dalam dekade ini dan mendorong kekhawatiran bahwa perusahaan mungkin akan mengeluarkan dana lebih untuk BG.

"Sementara arus kas dan kinerja operasional kuartalan kuat, biaya pengeluaran cukup besar," kata Van Beurden, seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (29/10/2015).

Dia menjelaskan, biaya tersebut mencerminkan prospek harga minyak dan gas yang lebih rendah dan langkah tegas perusahaan untuk meninjau dan mengurangi kerugian Shell dalam jangka panjang. Rata-rata harga minyak mentah Brent turun 50% pada kuartal ini dari tahun sebelumnya menjadi USD51,30/barel, terendah sejak 2009.

Shell menghentikan proyek pasir minyak di Alberta, Kanada yang memroduksi minyak 80.000 barel per hari (bph) dan proyek di Alaska pada September lalu, setelah mengeluarkan dana USD7 miliar karena gagal menemukan cadangan minyak atau gas yang cukup.

Saham perusahaan anjlok ke posisi terendah enam tahun setelah keputusan tersebut. Saham produser B, yang paling banyak diperdagangkan, naik 1,2% menjadi 1,742.50 pence di London, Rabu. Saham telah tenggelam 22% sepanjang tahun ini, dibandingkan dengan penurunan 4,9% di BP Plc.

Shell, yang membeli BG lebih dariUSD70 miliar menyatakan pada Juli lalu bahwa kesepakatan itu akan menambah arus kas senilai USD67/barel pada 2016.

Akuisisi ini akan selesai awal tahun depan dan akan memberikan aset perairan dalam Shell di Brazil, meningkatkan posisinya di pasar gas Australia dan memperluas akses ekspor gas alam cair AS ke negara berkembang.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mahasiswa Indonesia...
Mahasiswa Indonesia Bersiap Mengukir Prestasi di Shell Eco-marathon Qatar 2025
Shell Bangun Pabrik...
Shell Bangun Pabrik Gemuk Terbesar Ketiga di Dunia di Bekasi
3 Cara Mencari SPBU...
3 Cara Mencari SPBU Shell Terdekat, Mudah dan Praktis
Shell Tegaskan Zat Aditif...
Shell Tegaskan Zat Aditif Bukan untuk Sulap Oktan BBM
1.800 Mekanik Ikuti...
1.800 Mekanik Ikuti Program Shell Master Mechanic 2025
Stok BBM SPBU Shell...
Stok BBM SPBU Shell Masih Kosong
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
33 menit yang lalu
Easycash, OJK dan AFTECH...
Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
1 jam yang lalu
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
1 jam yang lalu
Promo Spesial BRI Kartu...
Promo Spesial BRI Kartu Kredit: Jalan-Jalan Lebih Hemat Rp125.000 di tiket.com!
1 jam yang lalu
Imbal Hasil Obligasi...
Imbal Hasil Obligasi Kian Jadi Penentu Utama Pergerakan Valas
2 jam yang lalu
BULOG dan Komisi IV...
BULOG dan Komisi IV DPR Perkuat Sinergi Dukung Kesejahteraan Petani di Klaten
2 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved