Yuan Perpanjang Penurunan karena Serangan Paris

Senin, 16 November 2015 - 11:37 WIB
Yuan Perpanjang Penurunan...
Yuan Perpanjang Penurunan karena Serangan Paris
A A A
SHANGHAI - Yuan perpanjang penurunan untuk hari keempat karena serangan teror di Paris mendorong permintaan untuk aset safe haven termasuk dolar Amerika Serikat (USD), di tengah dukungan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menambahkan mata uang China dalam keranjang mata uang cadangannya (Special Drawing Rights/SDR).

Yuan turun sebanyak 0,11% menjadi penurunan tujuh pekan ke 6,3808/USD di Shanghai, dan turun 0,6% pada pukul 11.05 waktu setempat. Di pasar offshore Hong Kong, yuan melemah 0,12%. Dua belas bulan ke depan, mata uang non-deliverable stabil, setelah terkoreksi 0,42% pada akhir pekan lalu, yang menandai penurunan terbesar dalam dua bulan.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengumumkan pada akhir pekan lalu bahwa stafnya telah merekomendasikan mata uang China dimasukkan dalam dana SDR, selain USD, euro, poundsterling dan yen.

Rekomendasi itu membuat pemegang saham utama IMF termasuk Amerika Serikat akan mendukung inklusi jika yuan memenuhi kriteria lembaga yang berbasis di Washington itu. Dewan IMF akan bertemu pada 30 November mendatang.

"Meskipun inklusi SDR merupakan tonggak penting untuk internasionalisasi yuan, persetujuan IMF sebagian besar soal harga dan berita tidak mendukung nilai tukar saat ini," kata ekonom di DBS Bank Hong Kong Ltd Nathan Chow, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (16/11/2015).

Menurut dia, serangan Paris mendorong permintaan safe haven untuk USD dan masih melemahnya perekonomian China sebagai alasan yang membebani yuan. (Baca: Perlawanan Terhadap Terorisme Akan Jadi Agenda Utama G-20)

Bank Rakyat China (PBOC) melemahkan mata uang yuan untuk hari ke-10, terpanjang sejak 2008. Pemangkasan suku bunga acuan, dari mana mata uang diperbolehkan untuk perdagangan sebanyak 2% atau 0,155 menjadi 6,3750/USD, terlemah sejak 25 September 2015.

China mendevaluasi mata uangnya pada 11 Agustus dan kekhawatiran tentang depresiasi lebih lanjut dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, ditambah dengan prospek kenaikan suku bunga AS, memicu rekor dana keluar dan mendorong bank sentral untuk melakukan intervensi mendukung yuan.

"Pasar sekarang mengharapkan PBOC akan memiliki sedikit intervensi valuta asing setelah kesepakatan SDR," kata ahli strategi mata uang di Mizuho Bank Ltd Ken Cheung.

Data PBOC menunjukkan, lembaga keuangan China termasuk bank sentral membeli devisa pada Oktober untuk kali pertama dalam lima bulan, tanda meredanya aliran modal. Aset mata uang asing China meningkat sebesar 12,9 miliar yuan atau setara USD2 milyar, setelah mencetak penurunan sebesar 761 miliar yuan pada September.

"Data menunjukkan bahwa arus modal keluar telah mereda berkat upaya PBOC menstabilkan pasar mata uang," kata Kepala Ekonomi China di Macquarie Securities Ltd Larry Hu.

Namun mengingat kekuatan terbaru USD, dia menjelaskan, yuan masih menghadapi tekanan depresiasi yang kuat dalam waktu dekat. Kendati demikian, dia menuturkan, PBOC tidak akan membiarkan yuan jatuh.

"Tetapi mengingat USD yang kuat, yuan juga akan melemah, tapi tipis dibandingkan dengan sebagian besar mata uang lainnya," imbuhnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
2 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
3 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
4 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
4 Negara Arab yang Siap...
4 Negara Arab yang Siap Bantu Qatar Balas Serangan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved