Menterinya Jokowi Bilang SBY Warisi Empat Defisit
Rabu, 18 November 2015 - 11:49 WIB
Menterinya Jokowi Bilang SBY Warisi Empat Defisit
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengungkapkan, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sejak awal menjabat telah diwarisi empat defisit oleh pemerintahan sebelumnya, dalam hal ini pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dia mengatakan, empat defisit tersebut tak ayal membuat kondisi perekonomian Indonesia terus terpuruk. "Pemerintahan Jokowi satu tahun pertama tidak beruntung, karena diwarisi empat defisit oleh pemerintahan sebelumnya," katanya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (18/11/2015).
Pertama, defisit neraca perdagangan. Jika dulu neraca perdagangan Indonesia mampu mencapai surplus sebesar USD32 miliar, namun saat ini justru merosot hingga minus.
"Dulu kita biasa surplus beberapa tahun lalu USD32 miliar. Belakangan merosot terus sampai negatif. Sekarang Alhamdulillah sudah mulai naik lagi," imbuh Rizal.
Lebih lanjut mantan Menko bidang Perekonomian ini mengungkapkan, defisit kedua yaitu neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang cukup besar dan menekan kurs nilai tukar rupiah.
Ketiga, pemerintahan Jokowi juga diwarisi defisit neraca pembayaran, dan terakhir warisan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
"Sebetulnya sejak 1998 belum pernah sekaligus ada deficit current account dan neraca pembayaran," ungkap dia.
Menurutnya, keempat defisit ini memberikan tekanan dalam makroekonomi dan membuat kondisi perekonomian Indonesia mengalami koreksi cukup dalam.
"Karena saat booming komoditi beberapa tahun lalu tidak dilakukan perbaikan dan perubahan struktural sehingga semua masalah nongol akhir 2014-2015," tandasnya.
Dia mengatakan, empat defisit tersebut tak ayal membuat kondisi perekonomian Indonesia terus terpuruk. "Pemerintahan Jokowi satu tahun pertama tidak beruntung, karena diwarisi empat defisit oleh pemerintahan sebelumnya," katanya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (18/11/2015).
Pertama, defisit neraca perdagangan. Jika dulu neraca perdagangan Indonesia mampu mencapai surplus sebesar USD32 miliar, namun saat ini justru merosot hingga minus.
"Dulu kita biasa surplus beberapa tahun lalu USD32 miliar. Belakangan merosot terus sampai negatif. Sekarang Alhamdulillah sudah mulai naik lagi," imbuh Rizal.
Lebih lanjut mantan Menko bidang Perekonomian ini mengungkapkan, defisit kedua yaitu neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang cukup besar dan menekan kurs nilai tukar rupiah.
Ketiga, pemerintahan Jokowi juga diwarisi defisit neraca pembayaran, dan terakhir warisan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
"Sebetulnya sejak 1998 belum pernah sekaligus ada deficit current account dan neraca pembayaran," ungkap dia.
Menurutnya, keempat defisit ini memberikan tekanan dalam makroekonomi dan membuat kondisi perekonomian Indonesia mengalami koreksi cukup dalam.
"Karena saat booming komoditi beberapa tahun lalu tidak dilakukan perbaikan dan perubahan struktural sehingga semua masalah nongol akhir 2014-2015," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :