Neraca Perdagangan Surplus Indikasi Ekonomi RI Bisa Bertahan?
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 09:10 WIB
loading...
Kinerja perdagangan Indonesia di tengah pandemi Covid-19 malah moncer. Foto: dok/Koran SINDO
A
A
A
JAKARTA - Kinerja perdagangan Indonesia di tengah pandemi Covid-19 malah moncer. Selama lima bulan beruntun (Mei—September) neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang surplus mulai Mei 2020 yang mencapai USD2,1 miliar. Sementara pada Juni surplus USD1,27 miliar, berlanjut Juli surplus USD3,26 miliar, Agustus surplus USD2,33 miliar, dan September 2020 surplus USD2,44 miliar.
Indonesia antara lain mengalami surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) mencapai USD1,08 miliar, India sebesar USD562 miliar, dan Filipina sebesar USD491 miliar. Sedangkan defisit perdagangan terjadi dengan China yang mencapai USD879 miliar, Ukraina USD140 miliar, dan Brasil USD119 miliar. (Baca: Inilah Tabiat Buruk Suami yang Harus Dijauhi)
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus terjadi karena nilai ekspor yang lebih besar jika dibandingkan dengan nilai impor. BPS mencatat nilai ekspor pada September sebesar USD14,01 miliar, sementara nilai impornya USD11,57 miliar.
“Selama lima bulan berturut-turut kita kembali surplus sejak Mei dan di September. Bahkan, surplus September lebih besar dibandingkan Agustus dan lainnya,” ujar Suhariyanto dalam video virtual kemarin.
Suhariyanto menjelaskan, kenaikan ekspor pada September terutama didorong oleh sektor migas yang tumbuh 17,43%, sedangkan nonmigas tumbuh 6,47%. Meski tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor secara tahunan atau year on year masih tercatat turun 0,51%. “Ekspor migas turun 12,44%, sedangkan nonmigas naik 0,21%,” katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang surplus mulai Mei 2020 yang mencapai USD2,1 miliar. Sementara pada Juni surplus USD1,27 miliar, berlanjut Juli surplus USD3,26 miliar, Agustus surplus USD2,33 miliar, dan September 2020 surplus USD2,44 miliar.
Indonesia antara lain mengalami surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) mencapai USD1,08 miliar, India sebesar USD562 miliar, dan Filipina sebesar USD491 miliar. Sedangkan defisit perdagangan terjadi dengan China yang mencapai USD879 miliar, Ukraina USD140 miliar, dan Brasil USD119 miliar. (Baca: Inilah Tabiat Buruk Suami yang Harus Dijauhi)
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus terjadi karena nilai ekspor yang lebih besar jika dibandingkan dengan nilai impor. BPS mencatat nilai ekspor pada September sebesar USD14,01 miliar, sementara nilai impornya USD11,57 miliar.
“Selama lima bulan berturut-turut kita kembali surplus sejak Mei dan di September. Bahkan, surplus September lebih besar dibandingkan Agustus dan lainnya,” ujar Suhariyanto dalam video virtual kemarin.
Suhariyanto menjelaskan, kenaikan ekspor pada September terutama didorong oleh sektor migas yang tumbuh 17,43%, sedangkan nonmigas tumbuh 6,47%. Meski tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor secara tahunan atau year on year masih tercatat turun 0,51%. “Ekspor migas turun 12,44%, sedangkan nonmigas naik 0,21%,” katanya.
Lihat Juga :