Pansus Pelindo II Temukan Bukti RJ Lino Tunduk kepada Asing

Sabtu, 21 November 2015 - 20:08 WIB
Pansus Pelindo II Temukan...
Pansus Pelindo II Temukan Bukti RJ Lino Tunduk kepada Asing
A A A
JAKARTA - Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II DPR RI menemukan bukti ketundukan Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino terhadap asing, sehingga berpotensi merugikan negara sebesar Rp30 triliun.

Anggota Pansus Pelindo II Sukur Nababan menyatakan, kontrak kerja sama PT Pelindo II dengan perusahaan milik pengusaha Hong Kong Li Ka Shing, Hutchinson Port Holding (HPH) terkait operasional Terminal Peti Kemas Jakarta (JICT) yang diteken pada 2014 melanggar undang-undang (UU).

Bila kontrak sepihak yang dilakukan Lino dengan HPH dilanjutkan sampai 2038 maka potensi kerugian negara hampir mencapai Rp30 triliun. (Baca: Di Depan Pansus DPR, Rizal Kupas Tujuh Pelanggaran RJ Lino)

"Potensi kerugiaan negara, kalau dipakai kontrak versi Deutsche Bank (DB), maka lebih dari Rp20 triliun. Kalau pakai versi data histori pendapatan asli JICT sesuai audit keuangan, maka kerugian kita bisa Rp30 triliun," bebernya di Jakarta, Sabtu (21/11/2015).

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan ini menjelaskan, perpanjangan kontrak pengelolaan JICT antara Pelindo II dan HPH yang melanggar UU itu terjadi karena diteken secara sepihak tanpa persetujuan pemerintah. Padahal, persetujuan itu disyaratkan UU. (Baca: Rizal Ramli Minta Pansus DPR Ungkap Beking RJ Lino)

Dia tidak sepakat dengan pernyataan RJ Lino yang mengklaim Pelindo II dan Indonesia diuntungkan dengan perpanjangan kontrak dari 2014 hingga 2038. "Semua direkayasa dan faktanya negara dirugikan banyak," tegasnya.

Hal itu terjadi karena di kontrak pertama yang berlaku 1999-2019, HPH mengelola JICT dengan mendapatkan saham 51%, fee technical know how, dan dividen. Sementara Pelindo II mendapatkan jatah saham 48,9% dan 0,1% bagian Koperasi Karyawan.

Harusnya pada 2019 saat kontrak habis maka JICT menjadi milik Pemerintah Indonesia 100% melalui Pelindo II. Tapi, secara diam-diam dan sepihak, kontrak diperpanjang pada 2014 dengan durasi hingga 2038.

Pada perjanjian kedua tersebut, kepemilikan saham HPH adalah 49%. Sedangkan Pemerintah Indonesia melalui Pelindo II memilih 51% saham. Berikutnya, sistem royalti diganti menjadi sewa USD85 juta per tahun dan fee technical know how dihilangkan. Selain itu, Pelindo II mendapatkan USD215 juta di depan.

"Dari situ saja sudah mudah dihitung. Kehilangan HPH adalah kepemilikan saham selama sisa kontrak 2014 sampai 2019, 51% dikurangi 49%, yakni 2%. Dikali lima tahun, HPH kehilangan 10%. Tapi dengan perpanjangan kontrak sampai 2038, HPH dapat 49%," imbuhnya.

Baca: RJ Lino Minta Rizal Ramli Stop Bicara Ngawur
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pelindo Regional 2 Sukses...
Pelindo Regional 2 Sukses Layani 119 Ribu Penumpang di H-2 Lebaran
Operasional Tanjung...
Operasional Tanjung Priok Tetap Aman Terkendali, Pelindo Pastikan Operasional Pelabuhan Berjalan Normal
Pelindo II Tunda IPO...
Pelindo II Tunda IPO dan Akuisisi Pelabuhan Asing
Erick Thohir Rombak...
Erick Thohir Rombak Direksi Pelindo I hingga IV, Ada Apa?
Banyak SDM Kurang Tahan...
Banyak SDM Kurang Tahan Tekanan di Dunia Kerja, Ini Penyebabnya
Bos Pelindo II Blak-blakan...
Bos Pelindo II Blak-blakan Soal Merger, Bakal Banyak PHK?
Berita Terkini
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
21 menit yang lalu
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
3 jam yang lalu
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
4 jam yang lalu
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
6 jam yang lalu
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
7 jam yang lalu
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
8 jam yang lalu
Infografis
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,12% di Kuartal II 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved