Aktivitas Bisnis Zona Eropa Naik di Atas Ekspektasi

Senin, 23 November 2015 - 18:24 WIB
Aktivitas Bisnis Zona...
Aktivitas Bisnis Zona Eropa Naik di Atas Ekspektasi
A A A
LONDON - Data flash dari Markit menunjukkan, aktivitas bisnis di zona Eropa naik di atas ekspektasi pada November, meskipun serangkaian serangan teror di Paris membayangi awal bulan ini.

Indeks manajer pembelian komposit (PMI) berada pada 54,4, naik dari bulan sebelumnya pada 53,9 dan di atas ekspektasi analis pada 53,9. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi dan indeks bulan ini menunjukkan produksi mengalami ekspansi tercepat sejak Mei 2011.

kepala Ekonom Markit Chris Williamson mengatakan, data terbaru menunjukkan percepatan pertumbuhan zona Eropa menempatkan wilayah tersebut pada jalur penampilan terbaik kuartalan selama 4,5 tahun terakhir. Dia mengatakan, data itu lebih mengesankan di tengah serangan teroris pada 13 November di Paris.

Data awal dari Markit menunjukkan kelanjutan dari tren positif dalam perekonomian terbesar di zona Eropa, dimana PMI Jerman menjadi 54,9 pada November, naik dari akhir Oktober dari 54,2.

Sebaliknya, PMI komposit Prancis mengecewakan menjadi 51,3, turun dari Oktober pada 52,6, dengan aktivitas jasa melemah. Namun, survei manufaktur naik menjadi 50,8, titik tertinggi sejak April 2014.

Ekonom Senior Markit Jack Kennedy mengatakan, alasan utama perlambatan pertumbuhan jada disebabkan serangan pada 13 November di Paris oleh kelompok teroris yang menyebut dirinya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Data itu muncul di tengah peringatan keras dari think tank atas masa depan ekonomi Eropa. Lembaga Penelitian Kebijakan Publik (IPPR), sebuah think tank berhaluan kiri yang berbasis di Inggris, mengatakan dalam sebuah laporan bahwa penurunan ekonomi yang dialami Eropa dan efek setelahnya, seperti tingginya pengangguran dan lemahnya pasar tenaga kerja bisa menjadi pelengkap permanen di wilayah tersebut.

"Eropa terus menghadapi tantangan yang signifikan untuk mengatasi pengangguran, setengah pengangguran tidak aktif," kata IPPR dalam laporan terbarunya, seperti dikutip dari CNBC, Senin (23/11/2015).

Menurut laporan itu, ekonomi Eropa bagian selatan masih memerangi efek dari krisis utang. Tingkat pengangguran tinggi dan rasa tidak nyaman untuk bekerja.

Di bagian wilayah lainnya, para pekerja bisa tertinggal karena kemajuan dalam otomasi dan persaingan global yang lebih headwinds dalam jangka panjang, sehingga menyebabkan jumlah pasokan tenaga kerja trampil dan permintaan tidak seimbang.

Headwinds tersebut, IPPR menambahkan, mengancam untuk mengonsolidasikan beberapa efek jangka menengah dari resesi menjadi fitur yang lebih permanen dari ekonomi. Hal ini memberi prospek yang akan sangat mengkhawatirkan.

Sebanyak 19 negara blok zona Eropa telah jatuh ke dalam krisis dan resesi yang mendalam setelah krisis keuangan pada 2008. Efek yang paling akut dari krisis adalah hilangnya lapangan kerja secara signifikan sebagai hasil dari pemangkasan tenaga kerja dan penutupan industri dan bisnis.

Krisis menghantam negara-negara zona Eropa bagian selatan lebih dari rekan-rekan mereka yang lebih sejahtera di utara, seperti Yunani, Portugal, Spanyol, Siprus dan Irlandia, yang membutuhkan dana talangan.

Pemulihan ekonomi lambat di sebagian besar zona Eropa dalam beberapa tahun terakhir, dengan pengangguran masih menjadi masalah dan tetap tinggi di beberapa negara.

Menurut Eurostat, Jerman memiliki tingkat pengangguran terendah sebesar 4,5% pada September. Sementara pengangguran di Yunani dan Spanyol tetap tinggi sebesar 25%.

IPPR mengatakan bahwa para pembuat kebijakan perlu untuk menanggapi kondisi tersebut dengan meminimalkan erosi keterampilan jangka panjang sebagai akibat dari resesi, dan investasi untuk membentuk dan meningkatkan kembali keterampilan angkatan kerja di masa depan.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
10 Negara di Eropa dengan...
10 Negara di Eropa dengan Pertumbuhan Ekonomi Terbesar
Ekonom Ingatkan 3 Risiko...
Ekonom Ingatkan 3 Risiko Kenaikan Inflasi di Eropa Terhadap Ekonomi RI
Uni Eropa Fokus Pemulihan...
Uni Eropa Fokus Pemulihan Ekonomi Pasca-Pandemi
Ekonomi Kurang Kompetitif,...
Ekonomi Kurang Kompetitif, Macron: Uni Eropa Bisa Mati
Daftar 10 Ekonomi Terbesar...
Daftar 10 Ekonomi Terbesar di Eropa Usai Diuji Perang Rusia Ukraina
Mengapa Jerman Dijuluki...
Mengapa Jerman Dijuluki sebagai The Sickman of Europe?
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
4 jam yang lalu
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
5 jam yang lalu
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
5 jam yang lalu
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
5 jam yang lalu
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
5 jam yang lalu
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
5 jam yang lalu
Infografis
Birokrasi Rumit, Banyak...
Birokrasi Rumit, Banyak Bisnis Hengkang dari Uni Eropa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved