Lembong Khawatirkan Melambungnya Utang Turki

Senin, 07 Desember 2015 - 15:29 WIB
Lembong Khawatirkan...
Lembong Khawatirkan Melambungnya Utang Turki
A A A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) ‎Thomas Trikasih Lembong mengkhawatirkan kondisi perekonomian Turki yang utang jangka pendeknya tembus USD200 miliar. Pasalnya, jika terjadi gagal bayar maka dampaknya akan merembet hingga Tanah Air.

Dia mengatakan, Indonesia tidak boleh lengah menghadapi kondisi perekonomian global yang tidak pasti. Kendati telah terjadi beberapa perbaikan, namun Lembong masih meng‎anggap kondisi perekonomian global tetap rawan.

"Kita enggak boleh lengah meskipun sudah banyak kemajuan baik di dunia luar maupun domestik, tapi kondisi (ekonomi) luar masih rawan, kondisi di dalam kita masih ketinggalan," katanya dalam acara Apindo CEO's Gathering di Ballroom Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (7/12/2015).

Menurutnya, cadangan devisa Turki dan Bank Indonesia (BI) memang tidak jauh berbeda, berada di kisaran USD100 miliar.‎ Namun, utang jangka pendek Turki hingga dua kali lipat dari cadangan devisanya atau sekitar USD200 miliar.

"Jadi waktu meeting IMF tahunan kemarin, Turki ini punya total utang USD200 miliar yang harus di roller over, kalau ada apa-apa, misal turki gagal perpanjang (utang), efeknya akan domino," tutur dia.

Menurutnya, jika suatu saat Turki gagal bayar utangnya tersebut maka dampaknya bisa merembet ke negara lain seperti Brazil. maka, bukan tidak mungkin risiko tersebut mengancam Indonesia.

Pasalnya, hal tersebut pernah terjadi pada krisis moneter 1997. Kala itu, Thailand menjadi negara pertama yang melakukan devaluasi terhadap mata uangnya akibat krisis moneter.

Banyak orang beranggapan, devaluasi bath yang dilakukan Thailand tidak ‎akan memengaruhi Indonesia. Karena, saat itu Indonesia masih ditopang cadangan devisa dan kekayaan alam yang berlimpah.

Namun kenyataannya tak lama setelah Thailand dilanda krisis, ‎Korea juga mengalami hal yang sama dengan Thailand. Sejak itu, investor mulai khawatir dan ragu dengan ketahanan kondisi perekonomian Indonesia.

"Kemudian setelah itu Thailand ambruk, eh tiba-tiba Korea ikutan ambruk. Korea dulu ambruk, trus setelah Korea ambruk orang baru mulai nervous dengan Indonesia. Jadi itu contoh di mana masih banyak risiko dalam kondisi global," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
AFI Tawarkan Perlindungan...
AFI Tawarkan Perlindungan Jiwa Lintas Generasi Perkuat Ketahanan Finansial
6 jam yang lalu
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
6 jam yang lalu
PNM Bawa Suara Jutaan...
PNM Bawa Suara Jutaan Pengusaha Ultra Mikro di Halal Expo Indonesia 2026
7 jam yang lalu
Sabet Dua Penghargaan,...
Sabet Dua Penghargaan, Great Eastern Life Bersinar di Ajang Insurance Asia Awards 2026
7 jam yang lalu
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
7 jam yang lalu
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
7 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Calon Pemimpin...
5 Negara Calon Pemimpin Baru NATO, Salah Satunya Turki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved