Depresiasi Rupiah Tahun Depan Diramal Makin Meningkat
Minggu, 13 Desember 2015 - 10:47 WIB
Depresiasi Rupiah Tahun Depan Diramal Makin Meningkat
A
A
A
JAKARTA - Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tahun depan diprediksi akan semakin meningkat, terutama saat The Fed menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Karena itu, pendalaman pasar modal maupun pasar obligasi domestik bagi sektor swasta tetap menjadi prioritas untuk memberikan alternatif pembiayaan sektor swasta dalam negeri. Sehingga sektor swasta tidak terlalu terimbas gejolak nilai tukar.
"Selain itu, usaha-usaha mendorong intermediasi dari sektor perbankan melalui relaksasi aturan makroprudensial ataupun mikroprudensial, tetap diperlukan karena ruang ekspansi kredit oleh sektor perbankan akan terbatas seiring penerapan aturan-aturan Basel III mulai 2016," kata Ahli Perbankan Senior dari Sampoerna University Wahyu Seodarmono di Jakarta.
Menurutnya, depresiasi rupiah terhadap USD saat ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor struktural domestik, seperti ekspor yang masih didominasi barang commodity yang sedang melemah dan sentimen eksportir yang mengurangi penjualan mata uang asing terhadap rupiah, serta impor barang konsumsi yang terus meningkat.
Dia mengatakan, faktor tersebut menyebabkan banyaknya USD yang digunakan sektor swasta untuk pembayaran impor, membayar utang luar negeri dan membayar dividen.
Di mana tercatat, utang luar negeri (ULN) swasta naik hampir dua kali lipat sejak 2010, menjadi sekitar USD168 miliar di September 2015.
"Selain itu, prospek ekonomi tahun depan masih akan terpengaruh pada ekonomi Tiongkok yang cenderung masih melambat," ujarnya.
Karena itu, pendalaman pasar modal maupun pasar obligasi domestik bagi sektor swasta tetap menjadi prioritas untuk memberikan alternatif pembiayaan sektor swasta dalam negeri. Sehingga sektor swasta tidak terlalu terimbas gejolak nilai tukar.
"Selain itu, usaha-usaha mendorong intermediasi dari sektor perbankan melalui relaksasi aturan makroprudensial ataupun mikroprudensial, tetap diperlukan karena ruang ekspansi kredit oleh sektor perbankan akan terbatas seiring penerapan aturan-aturan Basel III mulai 2016," kata Ahli Perbankan Senior dari Sampoerna University Wahyu Seodarmono di Jakarta.
Menurutnya, depresiasi rupiah terhadap USD saat ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor struktural domestik, seperti ekspor yang masih didominasi barang commodity yang sedang melemah dan sentimen eksportir yang mengurangi penjualan mata uang asing terhadap rupiah, serta impor barang konsumsi yang terus meningkat.
Dia mengatakan, faktor tersebut menyebabkan banyaknya USD yang digunakan sektor swasta untuk pembayaran impor, membayar utang luar negeri dan membayar dividen.
Di mana tercatat, utang luar negeri (ULN) swasta naik hampir dua kali lipat sejak 2010, menjadi sekitar USD168 miliar di September 2015.
"Selain itu, prospek ekonomi tahun depan masih akan terpengaruh pada ekonomi Tiongkok yang cenderung masih melambat," ujarnya.
(dmd)