Larang Kata Bersayap di Proyek Pemerintah, Jokowi Sindir Susi

Senin, 14 Desember 2015 - 12:53 WIB
Larang Kata Bersayap...
Larang Kata Bersayap di Proyek Pemerintah, Jokowi Sindir Susi
A A A
JAKARTA - Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk menghilangkan program pemerintah yang tidak jelas dan memiliki kalimat bersayap serta tidak konkrit dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016.

Hal ini dikatakannya saat penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Anugerah Daerah Berprestasi Penerima Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2016.

(Baca Juga: Ini 10 K/L dengan Anggaran Terbesar di 2016)

Dia mencontohkan, kalimat bersayap dalam program kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yaitu 'program pemberdayaan nelayan'. Menurutnya, kata 'pemberdayaan' bersifat absurd lantaran pemberdayaan memiliki arti yang luas.

"Jangan muncul lagi jenis program yang tidak jelas. Saya ulangi lagi, jangan muncul lagi jenis program yang tidak jelas, tidak konkrit dan kalimat yang absurd. Misalnya di KKP, seperti pemberdayaan nelayan. Yang jelas saja misalnya beli kapal, beli jaring, atau beli benih. Kalau pemberdayaan nelayan nanti cat trotoar di pinggir jalan itu masuk," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (14/12/2015).

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan kepada seluruh K/L, bupati, hingga walikota harus jelas menyusun program. Jika hanya dikatakan program peningkatan kualitas, Dia menjelaskan maka uang yang akan keluar tidak jelas larinya. Menurutnya semua harus jelas agar pemerintah bisa menggunakan uang rakyat lebih konkrit.

"Kalau kata-katanya tepat, penggunaannya juga optimal dan terukur serta lebih tepat sasaran. Jangan menggunakan kata yang tadi saya sampaikan," sambungnya.

Menurutnya, jika anggaran dirumuskan lebih konkrit maka hal tersebut penting untuk membantu para menteri, kepala lembaga, hingga bupati untuk memonitor programnya di lembaga masing-masing. Rakyat pun menjadi semakin tahu dan dengan mudah menangkap program yang dikerjakan pemerintah.

"Kalau peningkatan kualitas sekolah, apa maksudnya. Harus jelas, bangun kelas berapa meter per segi. Hitungannya juga jelas. Jangan lari kemana-mana. Peningkatan kualitas sekolah. Apa? Rakyat juga menangkapnya apa. Misalnya 7x10 berarti 70 m2. Untuk bangun kelas berapa sih. Jelas angkanya," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian PUPR Ajukan...
Kementerian PUPR Ajukan Anggaran 2021 Sebesar Rp115,58 Triliun
10 Kementerian/Lembaga...
10 Kementerian/Lembaga dengan Anggaran Terbesar di 2026
Anggaran Kemenkeu Turun...
Anggaran Kemenkeu Turun Jadi Rp42,36 T, Ini Rinciannya
Anggaran Prabowo Ternyata...
Anggaran Prabowo Ternyata Masih Kalah dengan Basuki, Kementerian PUPR Tetap Juaranya!
Minta Tambah Anggaran...
Minta Tambah Anggaran Rp2,3 Triliun Tahun Depan, Ini Rencana Kementerian ATR/BPN
RAPBN 2021 Disetujui...
RAPBN 2021 Disetujui Banggar, Selanjutnya Meluncur ke Paripurna
Berita Terkini
AFI Tawarkan Perlindungan...
AFI Tawarkan Perlindungan Jiwa Lintas Generasi Perkuat Ketahanan Finansial
3 jam yang lalu
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
3 jam yang lalu
PNM Bawa Suara Jutaan...
PNM Bawa Suara Jutaan Pengusaha Ultra Mikro di Halal Expo Indonesia 2026
4 jam yang lalu
Sabet Dua Penghargaan,...
Sabet Dua Penghargaan, Great Eastern Life Bersinar di Ajang Insurance Asia Awards 2026
4 jam yang lalu
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
4 jam yang lalu
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
4 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved