Harga Minyak di Asia Merosot Menuju Posisi Terendah
Senin, 21 Desember 2015 - 08:07 WIB
Harga Minyak di Asia Merosot Menuju Posisi Terendah
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak mentah pada awal perdagangan di Asia hari ini merosot, menuju posisi terendah pekan lalu sebagai akibat dari kegiatan pengeboran. Selain itu, dolar Amerika Serikat (USD) yang kuat juga menekan harga minyak.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WI) diperdagangkan seharga USD34,48 per barel pada pukul 00.08 GMT, turun 25 sen dari posisi terakhir dan mendekati posisi terendahn Jumat kemarin.
Analis mengatakan menguatnya USD yang kuat berikut kenaikan suku bunga AS pekan lalu, membuat konsumsi minyak lebih mahal bagi negara-negara yang menggunakan mata uang yang berbeda, serta peningkatan baru dalam jumlah rig minyak AS membebani harga minyak.
"AS berharap jumlah rig naik kembali pekan ini, sebanyak 17 (untuk 541), mengakhiri empat penurunan mingguan berturut-turut," kata Goldman Sachs seperti dikutip dari Reuters, Senin (21/12/2015).
"Peningkatan jumlah rig bahkan dalam posisi harga minyak mentah yang rendah, namun produsen Shale berkomitmen untuk mempertahankan tingkat produksi. Data produksi tangguh mencerminkan meningkatnya stok minyak mentah AS, yang telah melonjak ke 491.000.000 barel," kata ANZ Bank.
Kelebihan di pasar minyak AS sebagai produsen utama menambah pasokan global, termasuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, memompa ratusan ribu minyak mentah setiap hari lebih dari permintaan.
Sementara, harga minyak mentah brent diperdagangkan turun 34 sen menjadi USD36,54 per barel, turun lebih dari dua pertiga sejak Juni 2014.
Kelebihan pasokan minyak global menunjukkan bahwa pencabutan larangan puluhan tahun pada ekspor minyak mentah AS yang diumumkan pekan lalu diharapkan memiliki dampak langsung pada arus minyak, termasuk harganya.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WI) diperdagangkan seharga USD34,48 per barel pada pukul 00.08 GMT, turun 25 sen dari posisi terakhir dan mendekati posisi terendahn Jumat kemarin.
Analis mengatakan menguatnya USD yang kuat berikut kenaikan suku bunga AS pekan lalu, membuat konsumsi minyak lebih mahal bagi negara-negara yang menggunakan mata uang yang berbeda, serta peningkatan baru dalam jumlah rig minyak AS membebani harga minyak.
"AS berharap jumlah rig naik kembali pekan ini, sebanyak 17 (untuk 541), mengakhiri empat penurunan mingguan berturut-turut," kata Goldman Sachs seperti dikutip dari Reuters, Senin (21/12/2015).
"Peningkatan jumlah rig bahkan dalam posisi harga minyak mentah yang rendah, namun produsen Shale berkomitmen untuk mempertahankan tingkat produksi. Data produksi tangguh mencerminkan meningkatnya stok minyak mentah AS, yang telah melonjak ke 491.000.000 barel," kata ANZ Bank.
Kelebihan di pasar minyak AS sebagai produsen utama menambah pasokan global, termasuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, memompa ratusan ribu minyak mentah setiap hari lebih dari permintaan.
Sementara, harga minyak mentah brent diperdagangkan turun 34 sen menjadi USD36,54 per barel, turun lebih dari dua pertiga sejak Juni 2014.
Kelebihan pasokan minyak global menunjukkan bahwa pencabutan larangan puluhan tahun pada ekspor minyak mentah AS yang diumumkan pekan lalu diharapkan memiliki dampak langsung pada arus minyak, termasuk harganya.
(izz)
Lihat Juga :