Ekspor RI Tahun Depan Diramal Terdongkrak Perbaikan Ekonomi AS
Senin, 21 Desember 2015 - 18:57 WIB
Ekspor RI Tahun Depan Diramal Terdongkrak Perbaikan Ekonomi AS
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Senior Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy menyebutkan ekspor Indonesia tahun depan bisa lebih baik. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) diyakini membaik di 2016 dan berimbas ke Tanah Aire, mengingat Negeri Paman Sam -julukan AS- merupakan mitra ekspor Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya bakal ada impact yang besar untuk Indonesia di segi perdagangan ekspor mengingat daya beli AS dipastikan tinggi jika ekonomi mereka membaik.
"Jadi yang harus dilihat sebenarnya adalah, kondisi ekspor tahun depan seharusnya jauh lebih baik. Kita harus melihat proporsi ekspor destination ke AS 9-10%, kalau PE nya pick up harusnya ada dampak pada PE Indonesia terutama di ekspor," jelasnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/12/2015)
Meskipun China melambat, katanya, masih ada India yang saat ini menjadi pasar prospektif juga. Jadi secara keseluruhan, seharusnya pertumbuhan ekspor tahun depan membaik. Tahun depan diperkirakan perekonomian global juga membaik, namun setidaknya untuk recover pelemahan ekonomi tidak kencang lantaran China masih melemah.
(Baca Juga: Ekspor Indonesia Diuntungkan Perubahan Yuan Jadi Mata Uang Dunia)
"China masih melambat tahun depan. Kalau AS pick up dan India membaik harusnya membaik juga ekspor kita. Walau tidak signifikan. Recovery di AS dan eropa bukan masalah ekspor saja, karena Foreign Direct Investment dari AS dan Eropa ke Indonesia cukup besar," katanya.
Kalau asumsi pertumbuhan ekonomi AS dan eropa membaik, lanjutnya imbasnya adalah oportunity investasi dari dua negara itu membaik juga walaupun China menurun.
"Tapi proporasi AS, india dan China sama. Tadinya China lebih tinggi seiring dengan perlambatan proporsinya turun. Jadi saling offside meski risiko di China masih ada. Jadi setidaknya lebih positif," pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya bakal ada impact yang besar untuk Indonesia di segi perdagangan ekspor mengingat daya beli AS dipastikan tinggi jika ekonomi mereka membaik.
"Jadi yang harus dilihat sebenarnya adalah, kondisi ekspor tahun depan seharusnya jauh lebih baik. Kita harus melihat proporsi ekspor destination ke AS 9-10%, kalau PE nya pick up harusnya ada dampak pada PE Indonesia terutama di ekspor," jelasnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/12/2015)
Meskipun China melambat, katanya, masih ada India yang saat ini menjadi pasar prospektif juga. Jadi secara keseluruhan, seharusnya pertumbuhan ekspor tahun depan membaik. Tahun depan diperkirakan perekonomian global juga membaik, namun setidaknya untuk recover pelemahan ekonomi tidak kencang lantaran China masih melemah.
(Baca Juga: Ekspor Indonesia Diuntungkan Perubahan Yuan Jadi Mata Uang Dunia)
"China masih melambat tahun depan. Kalau AS pick up dan India membaik harusnya membaik juga ekspor kita. Walau tidak signifikan. Recovery di AS dan eropa bukan masalah ekspor saja, karena Foreign Direct Investment dari AS dan Eropa ke Indonesia cukup besar," katanya.
Kalau asumsi pertumbuhan ekonomi AS dan eropa membaik, lanjutnya imbasnya adalah oportunity investasi dari dua negara itu membaik juga walaupun China menurun.
"Tapi proporasi AS, india dan China sama. Tadinya China lebih tinggi seiring dengan perlambatan proporsinya turun. Jadi saling offside meski risiko di China masih ada. Jadi setidaknya lebih positif," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :