Rizal Ramli Ingatkan Bank BUMN Jangan Salah Ekspansi di ASEAN
Jum'at, 25 Desember 2015 - 09:13 WIB
Rizal Ramli Ingatkan Bank BUMN Jangan Salah Ekspansi di ASEAN
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli mengingatkan bank BUMN (badan usaha milik negara) jangan salah strategi dalam ekspansi di wilayah ASEAN.
"Saya lebih senang bank di Indonesia tak usah sok jago. Berkompetisi di Singapura, perbankan kita biasa spread tinggi, di sana pasti rugi," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Rizal, jika bank pelat merah ingin ekspansi membuka kantor di luar negeri bisa masuk terlebih dahulu ke negara yang masih berada di bawah Singapura. (Baca: ATM Bank BUMN Bersatu, Biaya Transaksi Hanya Gopek)
"Kami sarankan bank milik Indonesia masuk ke negara ASEAN lain dulu, seperti Myanmar dan Laos. Kalau masuk ke negara yang baru bangkit seperti mereka, pasti jadi rajanya di sana," katanya.
Setelah bisa menguasai negara yang baru bangkit itu, lanjut Rizal, bank milik pemerintah bisa berkompetisi hingga menguasai ASEAN.
Secara teknis, Rizal menjelaskan, spread perbankan di Tanah Air rata-rata masih tinggi sekitar 6%-7% dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia. Menurutnya, ini alasan bank asing gencar masuk ke Indonesia.
"Keuntungan tinggi sekali, sangat tinggi cost of fund berapa? Landing rate berapa? Dapat angka 6%-7% selisih bunga dan cost of fund. Singapura kurang dari 0,5%, Malaysia kurang dari 1,5%," tuturnya.
Dia menambahkan, kompetisi perbankan dalam negeri secara keseluruhan masih belum bagus karena angka keuntungan yang masih tinggi tersebut.
"Bank di Indonesia sudah biasa spread sangat tinggi, menunjukan dua hal, satu walaupun jumlah bank banyak, kompetisi belum bagus. Kalau jumlah bank banyak, harusnya spread turun," pungkasnya.
"Saya lebih senang bank di Indonesia tak usah sok jago. Berkompetisi di Singapura, perbankan kita biasa spread tinggi, di sana pasti rugi," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Rizal, jika bank pelat merah ingin ekspansi membuka kantor di luar negeri bisa masuk terlebih dahulu ke negara yang masih berada di bawah Singapura. (Baca: ATM Bank BUMN Bersatu, Biaya Transaksi Hanya Gopek)
"Kami sarankan bank milik Indonesia masuk ke negara ASEAN lain dulu, seperti Myanmar dan Laos. Kalau masuk ke negara yang baru bangkit seperti mereka, pasti jadi rajanya di sana," katanya.
Setelah bisa menguasai negara yang baru bangkit itu, lanjut Rizal, bank milik pemerintah bisa berkompetisi hingga menguasai ASEAN.
Secara teknis, Rizal menjelaskan, spread perbankan di Tanah Air rata-rata masih tinggi sekitar 6%-7% dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia. Menurutnya, ini alasan bank asing gencar masuk ke Indonesia.
"Keuntungan tinggi sekali, sangat tinggi cost of fund berapa? Landing rate berapa? Dapat angka 6%-7% selisih bunga dan cost of fund. Singapura kurang dari 0,5%, Malaysia kurang dari 1,5%," tuturnya.
Dia menambahkan, kompetisi perbankan dalam negeri secara keseluruhan masih belum bagus karena angka keuntungan yang masih tinggi tersebut.
"Bank di Indonesia sudah biasa spread sangat tinggi, menunjukan dua hal, satu walaupun jumlah bank banyak, kompetisi belum bagus. Kalau jumlah bank banyak, harusnya spread turun," pungkasnya.
(dmd)
Lihat Juga :