Gubernur BI Waspadai Tren Penguatan Beruntun USD di 2016
Senin, 04 Januari 2016 - 14:26 WIB
Gubernur BI Waspadai Tren Penguatan Beruntun USD di 2016
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mewaspadai fenomena tren penguatan dolar Amerika Serikat (USD) dalam periode beruntun pada 2016. Meski begitu Dia mengaku tetap optimis menyambut tahub baru ini di tengah tantangan global yang masih kuat.
"Waspada ada periode super dolar, yakni dolar cenderung menguat jadi kita harus bangun optimisme. Bangun Indonesia karena potensi kita besar walaupun tantangan global masih ada," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/1/2016).
Sementara itu menurutnya arah rupiah tahun ini secara umum akan bergerak ke level stabil. Dia juga menyoroti terkait tantangan lain yakni masih besarnya impor dibandingkan ekspor. "Secara umum nilai tukar akan kembali lebih stabil. Kita melihat bahwa tantangan utama rupiah ada pada masih besarnya impor dibandingkan ekspor," lanjutnya.
Selain itu, pergerakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate) Tahun depan juga patut diwaspadai, meski ada kepastian bahwa Fed Rate bakal kembali naik secara bertahap.
"Kita tahu bahwa itu akan gradual, jadi kita mesti lebih hati-hati. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang, adanya kepastian bahwa setelah 9 tahun, Fed rate naik dan akan dilakukan secara gradual itu akan memberikan kepastian," tuturnya.
Di sisi lain, lanjutnya beberapa hal lain yang perlu diwaspadai saat ini adalah tertekannya harga minyak dan komoditas. "Yang kita perlu waspadai karena harga minyak dan komoditi terus mengalami tekanan. Harga minyak rendah membuat harga komoditas turun kemudian," pungkasnya.
"Waspada ada periode super dolar, yakni dolar cenderung menguat jadi kita harus bangun optimisme. Bangun Indonesia karena potensi kita besar walaupun tantangan global masih ada," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/1/2016).
Sementara itu menurutnya arah rupiah tahun ini secara umum akan bergerak ke level stabil. Dia juga menyoroti terkait tantangan lain yakni masih besarnya impor dibandingkan ekspor. "Secara umum nilai tukar akan kembali lebih stabil. Kita melihat bahwa tantangan utama rupiah ada pada masih besarnya impor dibandingkan ekspor," lanjutnya.
Selain itu, pergerakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate) Tahun depan juga patut diwaspadai, meski ada kepastian bahwa Fed Rate bakal kembali naik secara bertahap.
"Kita tahu bahwa itu akan gradual, jadi kita mesti lebih hati-hati. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang, adanya kepastian bahwa setelah 9 tahun, Fed rate naik dan akan dilakukan secara gradual itu akan memberikan kepastian," tuturnya.
Di sisi lain, lanjutnya beberapa hal lain yang perlu diwaspadai saat ini adalah tertekannya harga minyak dan komoditas. "Yang kita perlu waspadai karena harga minyak dan komoditi terus mengalami tekanan. Harga minyak rendah membuat harga komoditas turun kemudian," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :