Target PDB 5,3% Dinilai Tak Akan Signifikan Kurangi Kemiskinan

Rabu, 06 Januari 2016 - 06:56 WIB
Target PDB 5,3% Dinilai...
Target PDB 5,3% Dinilai Tak Akan Signifikan Kurangi Kemiskinan
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengemukakan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5,3% pada 2016 tidak akan signifikan mengurangi angka kemiskinan. Struktur industri di Tanah Air telah berubah dan mengalami penurunan kontribusi.

“Karakter industri sudah berubah sekarang, dulu setiap 1% pertumbuhan bisa serap hampir 500 ribu tenaga kerja. Sekarang hanya bisa serap 250-350 ribu tenaga kerja per 1% pertumbuhan. Hal ini karena struktur industri sudah berubah,” ujarnya, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/1/2015).

Dia menjelaskan perubahan struktur industri terlihat dari istilah industri padat karya yang bergeser menjadi lebih modern. Pabrik rokok atau garmen semakin lama terus mengurangi jumlah tenaga kerja dan menggunakan mesin untuk mengejar kualitas. Di pabrik rokok misalnya tidak lagi menggunakan sigaret kretek tangan dan menggunakan sigaret kretek mesin (SKM). Hal ini berdampak pada pengurangan penyerapan tenaga kerja.

“Pabrik kretek tangan sudah dilikuidasi. Begitu juga nasibnya pekerja di pabrik garnen. Industri padat karya sudah menggunakan mesin,” katanya.

Lana mengatakan pemerintah harus menciptakan lapangan kerja baru dengan sektor berbasis informal. Sektor seperti transportasi atau konstruksi dapat menjadi pengganti namun tetap masih terbatas untuk menampung tenaga kerja. Sektor konstruksi atau infrastruktur bisa menjadi alternatif karena membangun apartemen akan tetap butuh orang.

"Meskipun industri melambat namun tenaga kerja muda bisa pindah ke informal. Meskipun mass bekerja hanya singkat atau temporer. Pekerjaan seperti ojek online atau membangun apartemen dapat menjadi alternatif saat ini,” ujarnya.

Dia juga berharap pemerintah dapat lebih memaksimalkan dana desa yang sangat tergantung kreativitas kepala desa. Banyak realisasi dana desa yang terhambat karena desa harus mengajukan proposal. Seharusnya realisasi dana desa dapat diarahkan pemerintah ke program yang jelas seperti pengairan.

“Idenya bagus bottom up. Namun, dalam 2-3 tahun di periode ekonomi buruk ini seharusnya diberikan perintah penggunaan kemana dan memiliki standar program yang bagus,” tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
5 Tahun Terakhir, Kelas...
5 Tahun Terakhir, Kelas Menengah Indonesia Tergerus
Komisi XI DPR Soroti...
Komisi XI DPR Soroti Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Kemiskinan Meningkat
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
48 menit yang lalu
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
1 jam yang lalu
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
2 jam yang lalu
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
2 jam yang lalu
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
4 jam yang lalu
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
4 jam yang lalu
Infografis
5 Tips Packing Mudik...
5 Tips Packing Mudik Agar Koper Tak Kelebihan Muatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved