Genjot Penerimaan Pajak, HT Sebut Pemerintah Pakai Cara Berisiko

Senin, 11 Januari 2016 - 18:04 WIB
Genjot Penerimaan Pajak,...
Genjot Penerimaan Pajak, HT Sebut Pemerintah Pakai Cara Berisiko
A A A
JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengutarakan bahwa pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan ‎(Kemenkeu) menggunakan cara berisiko tinggi untuk menggenjot penerimaan pajak pada 2015.

Menurutnya pemerinta‎h mengambil cara yang berisiko dengan memberlakukan kebijakan penghapusan sanksi utang yang muncul atas koreksi SPT (reinventing policy). "Banyak SPT yang dikoreksi kantor pajak," jelasnya di MNC News Center, Jakarta, Senin (11/1/2016).

"Peraturan baru, jika kantor pajak mengoreksi laporan pajak dan kita sudah bayar, maka kita punya hak untuk menggugat supaya koreksi itu dikembalikan lagi tapi dengan catatan pajak dibayar 100%. Jadi kita harus setor dulu pajak, baru kita banding terus dapet bunga. Itu banyak terjadi!" sambungnya.

Ketua Umum Partai Perindo ini menuturkan, reinventing policy tersebut di kacamata pemerintah layaknya hutang. Hal ini dikatakannya sebagai praktik yang berisiko tinggi. "‎Jadi ini suatu praktek yang berisiko tinggi. Itu yang menyebabkan penerimaan pajak jelang dua minggu di Desember meningkat luar biasa‎," imbuh dia.

‎Selain itu, sambung HT, meroketnya penerimaan pajak pada akhir 2016 juga disebabkan karena kebijakan revaluasi aset. "Akibat kebijakan revaluasi aset. Batas waktunya akhir 2015 kalo perusahaan merevaluasi akan diberikan insentif pajak. Jadi banyak yang melakukan itu. Sebagian juga dipaksa melakukan itu," tandasnya.

Sebagai informasi sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menerangkan soal total realisasi penerimaan pajak sampai dengan 31 Desember 2015 adalah sebesar Rp1.055.61 triliun. Dengan rincian Rp1.005,89 triliun hanya untuk pajak penghasilan (PPh) non PPh migas (minyak dan gas bumi) dengan total pertumbuhan penerimaan pajaknya 7,15%.

Sementara pajak penghasilan (PPh) untuk migas hanya mencapai Rp49,72%. Dia juga menerangkan pecapaian ini pertama kalinya penerimaan pajak telah tembus Rp1000 triliun, padahal situsi ekonomi di Indonesia sedang mengalami perlambatan. Meski begitu pencapaian ini meleset dari target 2015 sebesar Rp1.294,25 triliun.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
HT Tegaskan Sulsel dan...
HT Tegaskan Sulsel dan Sumut Harus Jadi Lumbung Suara Partai Perindo
Apresiasi Natal Nasional...
Apresiasi Natal Nasional 2023 di Surabaya Sukses, HT: Ramai Sekali
Harapan Hary Tanoe di...
Harapan Hary Tanoe di HUT Soulyu
Hadiri Peresmian Kantor...
Hadiri Peresmian Kantor MPN Pemuda Pancasila, Hary Tanoesoedibjo: Semakin Bermanfaat bagi Bangsa Indonesia
HT: Semoga PP Makin...
HT: Semoga PP Makin Berkibar
Visi Misi Perindo Jelas,...
Visi Misi Perindo Jelas, Membangun Indonesia Sejahtera
Berita Terkini
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
34 menit yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
1 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
2 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
4 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved