Rupiah Diramal Bergejolak
Selasa, 12 Januari 2016 - 08:09 WIB
Rupiah Diramal Bergejolak
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah pada hari ini diperkirakan ada kekhawatiran akan peluang volatilitas atau gejolak yang terjadi dalam jangka pendek, jelang rilis data-data ekonomi Indonesia.
"Meski di pasar spot antar valas, laju rupiah tercatat menguat seiring membaiknya laju yuan dan terapresiasinya beberapa mata uang GBP, NZD, CAD, dan beberapa mata uang lainnya," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (12/1/2016).
Dia memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) akan berada di level Rp13.850-Rp14.050/USD.
Sementara, harga minyak yang kembali memasuki level psikologis di area USD32.57/barel kembali membayangi para pelaku pasar forex.
Tetapi, rebound-nya yuan setelah dilakukannya intervensi oleh PBoC setelah beberapa hari mengalami penurunan menjadikan pelaku pasar optimistis, sehingga menyebabkan mata uang USD kembali mengalami pelemahan terhadap yuan.
Kembali berada di area 6,57 dari sebelumnya 6,6. Meski demikian, investor masih dibayangi oleh data ekonomi China yang kian memburuk atau di bawah ekspektasi konsensus.
"Seperti inflasi Tiongkok yang hanya 1.6% tahun 2015 atau hanya 50% dari target pemerintah yakni 3% membuat para investor dilanda kekhawatiran karena sebelumnya data manufaktur Tiongkok juga dibawah ekspektasi," pungkasnya.
"Meski di pasar spot antar valas, laju rupiah tercatat menguat seiring membaiknya laju yuan dan terapresiasinya beberapa mata uang GBP, NZD, CAD, dan beberapa mata uang lainnya," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (12/1/2016).
Dia memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) akan berada di level Rp13.850-Rp14.050/USD.
Sementara, harga minyak yang kembali memasuki level psikologis di area USD32.57/barel kembali membayangi para pelaku pasar forex.
Tetapi, rebound-nya yuan setelah dilakukannya intervensi oleh PBoC setelah beberapa hari mengalami penurunan menjadikan pelaku pasar optimistis, sehingga menyebabkan mata uang USD kembali mengalami pelemahan terhadap yuan.
Kembali berada di area 6,57 dari sebelumnya 6,6. Meski demikian, investor masih dibayangi oleh data ekonomi China yang kian memburuk atau di bawah ekspektasi konsensus.
"Seperti inflasi Tiongkok yang hanya 1.6% tahun 2015 atau hanya 50% dari target pemerintah yakni 3% membuat para investor dilanda kekhawatiran karena sebelumnya data manufaktur Tiongkok juga dibawah ekspektasi," pungkasnya.
(izz)