HT: Indonesia Banyak Bergantung pada Asing
Selasa, 12 Januari 2016 - 14:18 WIB
HT: Indonesia Banyak Bergantung pada Asing
A
A
A
JAKARTA - CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan, Indonesia terlalu banyak bergantung pada asing yang sudah dirasakan sejak 1990-an. Hal ini diperparah dengan konstruksi yang dari awal tidak matang disiapkan oleh pemerintah.
"Memang konstruksi dari awal tidak disiapkan dengan matang. Kita terlalu banyak bergantung pada asing. Padahal di tahun 1970-an, kita kuat bahkan bisa ekspor minyak," katanya dalam acara Group & Economy Update di Gedung Global Media, Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (12/1/2015).
Jika dilihat dari perjalanan ekonomi nasional, pada 1970-an Indonesia kuat di sektor migas, bahkan menjadi aggota OPEC. Seiring kondisi tersebut, harga minyak bumi membooming di Indonesia.
"Sehingga saat itu bisa menopang ekonomi nasional. Pada 1980-an, harga minyak turun. Sehingga bukan tulang punggung utama lagi," kata pria asal Jawa Timur tersebut.
Kondisi ini, kata HT, Indonesia saat itu tidak mampu diversifikasi di sektor energi. Basisnya berpindah ke sektor industri, saat itu banyak pabrik didirikan. (Baca: HT Bicara Economy Update di Depan Ribuan Karyawan MNC).
"Pada waktu itu keluar PMA, PMDN sehingga banyak pabrik berdiri di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dan saat itu mendorong juga, di mana saat itu ada yang disebut bonus demograsi, di mana pertumbuhan penduduk sangat pesat," ujar dia.
Namun, ada yang harus dibenahi Indonesia. Karena kebiasaan di Indonesia adalah jika ada sesuatu yang bagus, Indonesia terlihat tidak menuangkan totalitas penuh di dalamnya.
"Ekosistemnya tidak disiapkan dengan baik, pendidikan tidak diperhatikan, infrastrukturnya juga sehingga pabrik-panbrik itu di 1990-an pindah ke luar negeri. Kita harusnya sadar akan itu. Kesiapan ekosistem menjadi hal yang penting dalam totalitas pembangunan negara," pungkasnya.
"Memang konstruksi dari awal tidak disiapkan dengan matang. Kita terlalu banyak bergantung pada asing. Padahal di tahun 1970-an, kita kuat bahkan bisa ekspor minyak," katanya dalam acara Group & Economy Update di Gedung Global Media, Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (12/1/2015).
Jika dilihat dari perjalanan ekonomi nasional, pada 1970-an Indonesia kuat di sektor migas, bahkan menjadi aggota OPEC. Seiring kondisi tersebut, harga minyak bumi membooming di Indonesia.
"Sehingga saat itu bisa menopang ekonomi nasional. Pada 1980-an, harga minyak turun. Sehingga bukan tulang punggung utama lagi," kata pria asal Jawa Timur tersebut.
Kondisi ini, kata HT, Indonesia saat itu tidak mampu diversifikasi di sektor energi. Basisnya berpindah ke sektor industri, saat itu banyak pabrik didirikan. (Baca: HT Bicara Economy Update di Depan Ribuan Karyawan MNC).
"Pada waktu itu keluar PMA, PMDN sehingga banyak pabrik berdiri di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dan saat itu mendorong juga, di mana saat itu ada yang disebut bonus demograsi, di mana pertumbuhan penduduk sangat pesat," ujar dia.
Namun, ada yang harus dibenahi Indonesia. Karena kebiasaan di Indonesia adalah jika ada sesuatu yang bagus, Indonesia terlihat tidak menuangkan totalitas penuh di dalamnya.
"Ekosistemnya tidak disiapkan dengan baik, pendidikan tidak diperhatikan, infrastrukturnya juga sehingga pabrik-panbrik itu di 1990-an pindah ke luar negeri. Kita harusnya sadar akan itu. Kesiapan ekosistem menjadi hal yang penting dalam totalitas pembangunan negara," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :