Tren Penguatan Rupiah Diramal Berlanjut
Rabu, 20 Januari 2016 - 08:03 WIB
Tren Penguatan Rupiah Diramal Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah pada hari ini diperkirakan masih dalam tren penguatan, jika laju dolar Amerika Serikat (USD) masih menunjukan pelemahannya.
"Terutama jika harga minyak mentah mengalami peningkatan," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Dia memprediksi rupiah cenderung menguat terbatas pada support Rp14.040/USD dan resisten Rp13.815/USD. Reza menyampaikan, setelah dirilisnya data ekonomi China, laju pada pasar forex bergerak variatif dimana USD sempat menguat terhadap beberapa mata uang seperti JPY, CNY, GBP, BRL, serta INR.
Di samping itu, USD juga melemah terhadap AUD, CAD, RUB, INR, serta IDR. Pelaku pasar nampaknya merespon data ekonomi China dengan sangat beragam dikarenakan sebagian pelaku pasar menganggap penurunan yang terjadi wajar. Sehingga masih di daerah aman atau dengan kata lain dapat ditoleransi sambil berharap adanya stimulus guna merangsang laju pertumbuhan China.
Dengan minimnya sentimen global, rupiah yang minim sentimen dari dalam negeri nampaknya berhasil memanfaatkan celah yang ada.
"Tampaknya laju Yuan selalu berbarengan dengan pergerakan rupiah, di mana jika Yuan dan Bursa Tiongkok tenang maka rupiah pun dapat terkena dampak angin segarnya. Di sisi lain, faktor eksternal dari Tiongkok terus membayangi keputusan para pelaku pasar," pungkas Reza.
"Terutama jika harga minyak mentah mengalami peningkatan," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Dia memprediksi rupiah cenderung menguat terbatas pada support Rp14.040/USD dan resisten Rp13.815/USD. Reza menyampaikan, setelah dirilisnya data ekonomi China, laju pada pasar forex bergerak variatif dimana USD sempat menguat terhadap beberapa mata uang seperti JPY, CNY, GBP, BRL, serta INR.
Di samping itu, USD juga melemah terhadap AUD, CAD, RUB, INR, serta IDR. Pelaku pasar nampaknya merespon data ekonomi China dengan sangat beragam dikarenakan sebagian pelaku pasar menganggap penurunan yang terjadi wajar. Sehingga masih di daerah aman atau dengan kata lain dapat ditoleransi sambil berharap adanya stimulus guna merangsang laju pertumbuhan China.
Dengan minimnya sentimen global, rupiah yang minim sentimen dari dalam negeri nampaknya berhasil memanfaatkan celah yang ada.
"Tampaknya laju Yuan selalu berbarengan dengan pergerakan rupiah, di mana jika Yuan dan Bursa Tiongkok tenang maka rupiah pun dapat terkena dampak angin segarnya. Di sisi lain, faktor eksternal dari Tiongkok terus membayangi keputusan para pelaku pasar," pungkas Reza.
(izz)