Minyak Dunia Turun, Pertamina Dinilai Untung Banyak
Jum'at, 22 Januari 2016 - 22:07 WIB
Minyak Dunia Turun, Pertamina Dinilai Untung Banyak
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) dinilai meraup banyak untung dari penjualan produk Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ataupun non subsidi di tengah tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang saat ini sudah bergerak di bawah USD30 per barel. Direktur Lingkar Studi Strategis (Lingstra) Iqbal Nusantara mengatakan tidak terima bila Pertamina beralasan selalu rugi, sehingga tidak menurunkan BBM.
(Baca Juga: Harga Minyak Merosot, Momen Tepat Lenyapkan Premium)
Menurutnya Pertamina beralasan untuk menutupi kerugian di sektor hulu migas, karena untuk mendapatkan 1 barel minyak di Indonesia, modal dibutuhkan antara USD22-USD24 per barel. “Kerugian di sektor hulu itu bukan urusan rakyat. Sebagai sebuah Perusahaan besar semestinya Pertamina tahu betul langkah yang harus diambil supaya tidak terjadi kerugian,” jelasnya saat dihubungi di Jakarta, Jumat (22/1/2016).
Dia menambahkan BBM sebagai salah satu kebutuhan hajat hidup orang banyak, sudah selayaknya diberikan dengan harga yang tidak terlampau mahal. “BBM itukan barang PSO, tidak boleh Pertamina meraup untung banyak dari rakyat,” tandasnya.
(Baca Juga: Lebih Mahal dari Malaysia, Harga BBM RI Tak Wajar)
Sementara itu hal senada juga diungkapkan Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri yang menurutnya pemerintah harus bertanggung jawab karena mengizinkan PT Pertamina (Persero) mengambil banyak keuntungan.
“Jangan salahkan Pertamina karena yang menentukan itu bukan Pertamina tapi yang membuat formula itu yaitu pemerintah, bukan Pertamina. Ini saatnya membunuh Premium itu untuk kita pindah ke Pertamax dengan harga yang lebih murah dari Premium sekarang," jelas Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas hari ini.
(Baca Juga: Harga Minyak Merosot, Momen Tepat Lenyapkan Premium)
Menurutnya Pertamina beralasan untuk menutupi kerugian di sektor hulu migas, karena untuk mendapatkan 1 barel minyak di Indonesia, modal dibutuhkan antara USD22-USD24 per barel. “Kerugian di sektor hulu itu bukan urusan rakyat. Sebagai sebuah Perusahaan besar semestinya Pertamina tahu betul langkah yang harus diambil supaya tidak terjadi kerugian,” jelasnya saat dihubungi di Jakarta, Jumat (22/1/2016).
Dia menambahkan BBM sebagai salah satu kebutuhan hajat hidup orang banyak, sudah selayaknya diberikan dengan harga yang tidak terlampau mahal. “BBM itukan barang PSO, tidak boleh Pertamina meraup untung banyak dari rakyat,” tandasnya.
(Baca Juga: Lebih Mahal dari Malaysia, Harga BBM RI Tak Wajar)
Sementara itu hal senada juga diungkapkan Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri yang menurutnya pemerintah harus bertanggung jawab karena mengizinkan PT Pertamina (Persero) mengambil banyak keuntungan.
“Jangan salahkan Pertamina karena yang menentukan itu bukan Pertamina tapi yang membuat formula itu yaitu pemerintah, bukan Pertamina. Ini saatnya membunuh Premium itu untuk kita pindah ke Pertamax dengan harga yang lebih murah dari Premium sekarang," jelas Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas hari ini.
(akr)
Lihat Juga :