Kebijakan QE AS Bisa Bikin Rupiah Menguat
Senin, 25 Januari 2016 - 11:58 WIB
Kebijakan QE AS Bisa Bikin Rupiah Menguat
A
A
A
JAKARTA - Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan, rupiah bisa menguat tinggi jika Amerika Serikat (AS) mengeluarkan kebijakan quantitative easing (QE). Seperti yang terjadi pada 2011, rupiah tembus Rp8.600/USD pada saat kondisi ekonomi AS melemah.
Namun, kata dia, hal tersebut sulit terjadi saat ini. Karena AS banyak mencetak uang yang beredar di seluruh dunia pada 2009, 2011, dan 2013.
"Mereka lakukan lantaran ekonomi AS saat itu sedang tidak baik. Jadi, ketika uang dari AS mengalir hingga ke Indonesia, berdampak pada penguatan rupiah di angka Rp8.600/USD pada 2011. Namun, kalau itu diharapkan sekarang ini, rasanya tidak mungkin karena mereka tidak cetak uang lagi," jelasnya di Royal Kuningan Hotel, Jakarta, Senin (25/1/2016).
Menurutnya, pengenaan policy quantitative easing AS tersebut goalnya sama, yakni relaksasi dalam kondisi ekonomi yang sulit. Jika ini dilakukan, maka perekonomian akan terdorong lebih baik.
"Kebijakan ini sukses. Policy tersebut dalam tiga periode diberlakukan, uang yang tercetak mencapai USD4,2 triliun," kata dia.
Namun, kebijakan ini ternyata tidak bisa digunakan di Indonesia karena akan berdampak pada tingginya inflasi, lantaran gross domestic product (GDP) Indonesia tidak sebesar AS.
"Hebatnya, mereka lakukan itu tapi tidak terjadi inflasi. GDP mereka USD17,5 triliun di Indonesia kira-kira masih USD12,5 triliun. Kalau kita terapkan quantitave easing di Indonesia, kita inflasinya bisa besar-besaran. Karena uangnya hanya beredar dari sabang sampai Merauke saja," jelasnya.
Tony mengingatkan, apapun kondisi yang terjadi saat ini, pelemahan ekonomi seberat apapun atau sekuat apapun, rupiah tidak akan kembali menguat di bawah Rp10 ribu jika Amerika Serikat tidak mencetak uang lagi.
"Jangan salahkan juga Presidennya. Siapapun Presidennya, kalau AS tidak cetak uang, ya rupiah tidak akan Rp10 ribu. Rp13 ribu saja sudah Alhamdulilah saat ini. Jadi ekspektasi kita tidak bisa terlalu tinggi," pungkasnya.
Namun, kata dia, hal tersebut sulit terjadi saat ini. Karena AS banyak mencetak uang yang beredar di seluruh dunia pada 2009, 2011, dan 2013.
"Mereka lakukan lantaran ekonomi AS saat itu sedang tidak baik. Jadi, ketika uang dari AS mengalir hingga ke Indonesia, berdampak pada penguatan rupiah di angka Rp8.600/USD pada 2011. Namun, kalau itu diharapkan sekarang ini, rasanya tidak mungkin karena mereka tidak cetak uang lagi," jelasnya di Royal Kuningan Hotel, Jakarta, Senin (25/1/2016).
Menurutnya, pengenaan policy quantitative easing AS tersebut goalnya sama, yakni relaksasi dalam kondisi ekonomi yang sulit. Jika ini dilakukan, maka perekonomian akan terdorong lebih baik.
"Kebijakan ini sukses. Policy tersebut dalam tiga periode diberlakukan, uang yang tercetak mencapai USD4,2 triliun," kata dia.
Namun, kebijakan ini ternyata tidak bisa digunakan di Indonesia karena akan berdampak pada tingginya inflasi, lantaran gross domestic product (GDP) Indonesia tidak sebesar AS.
"Hebatnya, mereka lakukan itu tapi tidak terjadi inflasi. GDP mereka USD17,5 triliun di Indonesia kira-kira masih USD12,5 triliun. Kalau kita terapkan quantitave easing di Indonesia, kita inflasinya bisa besar-besaran. Karena uangnya hanya beredar dari sabang sampai Merauke saja," jelasnya.
Tony mengingatkan, apapun kondisi yang terjadi saat ini, pelemahan ekonomi seberat apapun atau sekuat apapun, rupiah tidak akan kembali menguat di bawah Rp10 ribu jika Amerika Serikat tidak mencetak uang lagi.
"Jangan salahkan juga Presidennya. Siapapun Presidennya, kalau AS tidak cetak uang, ya rupiah tidak akan Rp10 ribu. Rp13 ribu saja sudah Alhamdulilah saat ini. Jadi ekspektasi kita tidak bisa terlalu tinggi," pungkasnya.
(izz)