Ekonom: BI Rate 4-6% Timbulkan Aksi Borong USD
Senin, 25 Januari 2016 - 12:45 WIB
Ekonom: BI Rate 4-6% Timbulkan Aksi Borong USD
A
A
A
JAKARTA - Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menilai, jika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) diturunkan pada level 4%-6%, akan membuat masyarakat berbondong-bondong untuk memborong dolar Amerika Serikat (USD).
Hal tersebut menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang beberapa lalu menyatakan, ingin menurunkan BI rate pada range 4%-6%. Permintaan Jokowi tersebut perlu dikaji lebih mendalam, lantaran kondisi Indonesia sedang tidak memungkinkan untuk menurunkan rate cukup besar dari saat ini di level 7,25%.
"Kalau suku bunga diturunkan, apalagi dengan cepat, maka akan ada komplikasi seperti penyakit saja. Orang akan berbondong-bondong tukar dolar. Uang mereka yang disimpan di deposito, semua dicairkan dan dibelikan dolar semua," katanya dalam acara ADPI Gathering dan seminar nasional yang bekerja sama dengan MNC Securities, MNC Asset dan MNC Finance di Jakarta, Senin (25/1/2016).
Tony mengatakan, pemerintah Indonesia ingin menyontoh kebijakan Amerika Serikat dengan menurunkan suku bunga. Hal tersebut memang bisa dilakukan AS lantaran mata uangnya merupakan mata uang internasional, tidak seperti Indonesia.
"Demand masyarakat seluruh dunia terhadap dolar itu besar. Berbeda dengan Indonesia. Kalau mereka tidak takut masyarakatnya beli mata uang USD karena dolar jadi mata uang internasional," ujarnya.
Karena itu, dia mengimbau agar pemerintah dan BI untuk mempertimbangkan dengan baik sebelum menurunkan suku bunga. Perlu dipertimbangkan pondasi nilai tukar sebelum menurunkannya.
"Ini lantaran, kita masih tergantung dengan dolar. Sekarang saja hampir semua pabrik kalau bangun pabrik itu hampir semuanya impor. Jadi kalau Pak Jokowi ingin suku bunga turun jadi 4%, ya nanti dulu," pungkas Tony.
Hal tersebut menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang beberapa lalu menyatakan, ingin menurunkan BI rate pada range 4%-6%. Permintaan Jokowi tersebut perlu dikaji lebih mendalam, lantaran kondisi Indonesia sedang tidak memungkinkan untuk menurunkan rate cukup besar dari saat ini di level 7,25%.
"Kalau suku bunga diturunkan, apalagi dengan cepat, maka akan ada komplikasi seperti penyakit saja. Orang akan berbondong-bondong tukar dolar. Uang mereka yang disimpan di deposito, semua dicairkan dan dibelikan dolar semua," katanya dalam acara ADPI Gathering dan seminar nasional yang bekerja sama dengan MNC Securities, MNC Asset dan MNC Finance di Jakarta, Senin (25/1/2016).
Tony mengatakan, pemerintah Indonesia ingin menyontoh kebijakan Amerika Serikat dengan menurunkan suku bunga. Hal tersebut memang bisa dilakukan AS lantaran mata uangnya merupakan mata uang internasional, tidak seperti Indonesia.
"Demand masyarakat seluruh dunia terhadap dolar itu besar. Berbeda dengan Indonesia. Kalau mereka tidak takut masyarakatnya beli mata uang USD karena dolar jadi mata uang internasional," ujarnya.
Karena itu, dia mengimbau agar pemerintah dan BI untuk mempertimbangkan dengan baik sebelum menurunkan suku bunga. Perlu dipertimbangkan pondasi nilai tukar sebelum menurunkannya.
"Ini lantaran, kita masih tergantung dengan dolar. Sekarang saja hampir semua pabrik kalau bangun pabrik itu hampir semuanya impor. Jadi kalau Pak Jokowi ingin suku bunga turun jadi 4%, ya nanti dulu," pungkas Tony.
(izz)