Ada Lubang Triliunan dalam APBN akibat Harga Minyak Anjlok
Rabu, 27 Januari 2016 - 23:03 WIB
Ada Lubang Triliunan dalam APBN akibat Harga Minyak Anjlok
A
A
A
JAKARTA - Anjloknya harga minyak dunia hingga level USD30/barel akan membuat lubang besar hingga triliunan rupiah dalam APBN 2016. Hal ini karena asumsi pemerintah dalam APBN 2016 sebesar USD50/barel sehingga ada jarak yang cukup besar.
Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi mengemukakan, dari selisih turunnya harga minyak sebesar USD1/barel saja akan ada potensi kehilangan penerimaan negara sebanyak Rp3 triliun.
"Ada lubang dari asumsi pemerintah USD50/barel. Turun USD1/barel akan hilang pemasukan dari migas Rp3 triliun berdasarkan hitungan sensitifitas," ujarnya di Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Agus mengatakan, akibat fenomena tersebut membuat pihaknya dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menghitung ulang asumsi harga minyak dunia dalam APBN-P 2016.
"Kemudian dari situ kita hitung masuk ke negara berapa? Kontribusi kepada APBN. Kita dengan Kemenkeu sedang hitung ajukan APBN-P, berapa penerimaan migas?" imbuhnya.
Dia menambahkan, anjloknya harga minyak dunia karena pasokan yang berlebih terutama setelah ditemukannya sel gas di Amerika Serikat tidak diimbangi permintaan besar akibat banyak negara ekonominya melemah seperti China.
Selain itu, lanjut dia, ada faktor geo politik seperti Irak yang sudah bisa mengirimkan minyaknya serta sanksi kepada Iran. "Sanksi kepada Iran dikeluarkan, satu potensi over suplai luar biasa. Itulah gap antara pasokan dan permintaan," pungkasnya.
Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi mengemukakan, dari selisih turunnya harga minyak sebesar USD1/barel saja akan ada potensi kehilangan penerimaan negara sebanyak Rp3 triliun.
"Ada lubang dari asumsi pemerintah USD50/barel. Turun USD1/barel akan hilang pemasukan dari migas Rp3 triliun berdasarkan hitungan sensitifitas," ujarnya di Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Agus mengatakan, akibat fenomena tersebut membuat pihaknya dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menghitung ulang asumsi harga minyak dunia dalam APBN-P 2016.
"Kemudian dari situ kita hitung masuk ke negara berapa? Kontribusi kepada APBN. Kita dengan Kemenkeu sedang hitung ajukan APBN-P, berapa penerimaan migas?" imbuhnya.
Dia menambahkan, anjloknya harga minyak dunia karena pasokan yang berlebih terutama setelah ditemukannya sel gas di Amerika Serikat tidak diimbangi permintaan besar akibat banyak negara ekonominya melemah seperti China.
Selain itu, lanjut dia, ada faktor geo politik seperti Irak yang sudah bisa mengirimkan minyaknya serta sanksi kepada Iran. "Sanksi kepada Iran dikeluarkan, satu potensi over suplai luar biasa. Itulah gap antara pasokan dan permintaan," pungkasnya.
(dmd)
Lihat Juga :