Sepakat Bentuk Holding, Jokowi Minta BUMN Tak Jago Kandang
Senin, 29 Februari 2016 - 15:59 WIB
Sepakat Bentuk Holding, Jokowi Minta BUMN Tak Jago Kandang
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyepakati rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk membentuk induk (holding) BUMN. Hal ini dijelaskan semata agar perusahaan pelat merah di Tanah Air tidak hanya jago kandang dan mampu bersaing dalam kancah persaingan global.
(Baca Juga: Holding BUMN Pertambangan Target Dibentuk 2018 )
Hal tersebut diungkapkan Jokowi dalam rapat kabinet terbatas (ratas) mengenai holding BUMN di Kantor Presiden, yang dihadiri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) dan beberapa menteri dalam Kabinet Kerja.
Jokowi menuturkan, dirinya ingin mendorong agar BUMN dapat berperan sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional. Selain itu dia ingin agar BUMN tidak hanya berpikir mengenai untuk dan rugi semata, melainkan juga multiplier effect lainnya untuk kesejahteraan rakyat.
"Kita juga ingin BUMN tidak hanya pikir untung rugi, tapi multiplier effect bagi kesejahteraan rakyat. BUMN jangan hanya jago kandang, tapi berani menyerang negara lain," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/2/2016).
Dia meminta para pembantunya membuat peta jalan (roadmap) yang jelas untuk mewujudkan BUMN yang kuat lincah, dan berani bersaing menghadapi era persaingan yang sangat kompetitif seperti saat ini.
"Saya minta dibuat peta jalan, baik dalam bentuk superholding atau holding, atau dimulai dengan virtual holding. Tapi ini memang harus segera diputuskan agar kekuatan BUMN dan kelincahan betul-betul bisa segera dilakukan terutama menghadapi MEA," terang dia.
Menurutnya, holding BUMN tersebut bisa dilakukan dengan langkah awal melalui strukturisasi dan memfokuskan bisnis yang akan diindukkan. Setelah itu, dilakukan juga restrukturisasi organisasi dan perubahan total mengenai budaya kerja sehari-hari di perusahaan pelat merah tersebut.
"Dengan langkah itu, saya yakin BUMN kita punya competitiveness terutama menghadapi kompetisi global," tandasnya.
(Baca Juga: Holding BUMN Pertambangan Target Dibentuk 2018 )
Hal tersebut diungkapkan Jokowi dalam rapat kabinet terbatas (ratas) mengenai holding BUMN di Kantor Presiden, yang dihadiri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) dan beberapa menteri dalam Kabinet Kerja.
Jokowi menuturkan, dirinya ingin mendorong agar BUMN dapat berperan sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional. Selain itu dia ingin agar BUMN tidak hanya berpikir mengenai untuk dan rugi semata, melainkan juga multiplier effect lainnya untuk kesejahteraan rakyat.
"Kita juga ingin BUMN tidak hanya pikir untung rugi, tapi multiplier effect bagi kesejahteraan rakyat. BUMN jangan hanya jago kandang, tapi berani menyerang negara lain," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/2/2016).
Dia meminta para pembantunya membuat peta jalan (roadmap) yang jelas untuk mewujudkan BUMN yang kuat lincah, dan berani bersaing menghadapi era persaingan yang sangat kompetitif seperti saat ini.
"Saya minta dibuat peta jalan, baik dalam bentuk superholding atau holding, atau dimulai dengan virtual holding. Tapi ini memang harus segera diputuskan agar kekuatan BUMN dan kelincahan betul-betul bisa segera dilakukan terutama menghadapi MEA," terang dia.
Menurutnya, holding BUMN tersebut bisa dilakukan dengan langkah awal melalui strukturisasi dan memfokuskan bisnis yang akan diindukkan. Setelah itu, dilakukan juga restrukturisasi organisasi dan perubahan total mengenai budaya kerja sehari-hari di perusahaan pelat merah tersebut.
"Dengan langkah itu, saya yakin BUMN kita punya competitiveness terutama menghadapi kompetisi global," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :