Operator Blok Masela Ditantang Tak Minta Bantuan Pemerintah
Sabtu, 05 Maret 2016 - 16:45 WIB
Operator Blok Masela Ditantang Tak Minta Bantuan Pemerintah
A
A
A
JAKARTA - Operator Blok Masela saat ini yakni Inpex Corporation dan Royal Dutch Shell ditantang dalam proses pembangunan kilang di Pulau Tanimbar, Maluku tersebut tidak membebani pemerintah. Pengamat Ekonomi dari Sustainable Development Indonesia (SDI), Dradjad Wibowo mengatakan jika pembangunan kilang melebihi dari cost recovery, maka operator ditantang tidak boleh meminta bantuan pemerintah.
"Saya tantang kepada investor yang mau bangun kilang, berani tidak bikin kontrak bahwa jika biaya membengkak tidak akan membebani APBN atau tidak akan minta bantuan pemerintah. Jadi itu nanti ditanggug kontraktor dan Negara tidak boleh dibebani oleh cost recovery yang berlebihan," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Blok Masela sesuai konstitusi' di Jakarta, Sabtu (5/3/2016).
(Baca Juga: Kegaduhan Positif Blok Masela dan Freeport)
Dia menambahkan‎ dari sisi teknis, memang ada penghitungan jika kilang tersebut dibangun di laut biayanya memang lebih murah yakni USD14,8 miliar sedangkan di darat hampir USD19 miliar. Lanjut dia pemerintah dihimbau untuk membuat kontrak pembangunan Blok Masela tanpa membebani keuangan negera.
"Misalnya target produksi molor beberapa tahun dan kemudian pembiayaan membengkak. Jadi kepada Menteri Sudirman Said, pertanyaan saya kalau memang biaya di laut diyakini bisa USD14,8 miliar. Berani tidak bikin kontrak kalau over budget tidak ganggu keuangan pemerintah? Informasi yang saya peroleh, mereka tidak berani," pungkasnya.
"Saya tantang kepada investor yang mau bangun kilang, berani tidak bikin kontrak bahwa jika biaya membengkak tidak akan membebani APBN atau tidak akan minta bantuan pemerintah. Jadi itu nanti ditanggug kontraktor dan Negara tidak boleh dibebani oleh cost recovery yang berlebihan," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Blok Masela sesuai konstitusi' di Jakarta, Sabtu (5/3/2016).
(Baca Juga: Kegaduhan Positif Blok Masela dan Freeport)
Dia menambahkan‎ dari sisi teknis, memang ada penghitungan jika kilang tersebut dibangun di laut biayanya memang lebih murah yakni USD14,8 miliar sedangkan di darat hampir USD19 miliar. Lanjut dia pemerintah dihimbau untuk membuat kontrak pembangunan Blok Masela tanpa membebani keuangan negera.
"Misalnya target produksi molor beberapa tahun dan kemudian pembiayaan membengkak. Jadi kepada Menteri Sudirman Said, pertanyaan saya kalau memang biaya di laut diyakini bisa USD14,8 miliar. Berani tidak bikin kontrak kalau over budget tidak ganggu keuangan pemerintah? Informasi yang saya peroleh, mereka tidak berani," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :