Tertinggal dari Malaysia Soal FLNG, Ini Jawaban Pemerintah
Jum'at, 11 Maret 2016 - 13:15 WIB
Tertinggal dari Malaysia Soal FLNG, Ini Jawaban Pemerintah
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Maritim dan Sumber Daya mengklaim skema pembangunan kilang terapung di laut (floating LNG/offshore) untuk Blok Masela, Maluku tidak bisa disamakan dengan proyek FLNG Malaysia yang lebih dulu dibangun Petronas yang diberi nama FLNG Satu.
Tenaga Ahli bidang Energi Kemenko bidang Kemaritiman Haposan Napitupulu mengatakan, Petronas memang telah lebih dulu membangun FLNG untuk kilang di blok migas miliknya. Namun, blok migas yang dimaksud memiliki skala jauh lebih kecil dibanding Blok Masela.
"Petronas katanya membangun FLNG. Ya betul Petronas membangun FLNG dengan justifikasi bahwa lapangan yang dibangun Petronas itu kecil dan tidak termanfaatkan selama ini," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (11/3/2016).
Selain itu, alasan lain dibangunnya kilang FLNG di Malaysia lantaran mereka mengalami kesulitan jika membangun kilangnya di darat dengan skema pipanisasi (onshore). Sebab, jika dialirkan ke darat namun lapangan migasnya kecil maka pipa yang dibangun akan mubazir.
"Karena kalau dialirkan ke darat, lapangannya itu kecil dan diproyeksikan cuma 3-5 tahun. Dan kalau bangun pipa ke darat yang jauh, cuma 3-5 tahun terlalu mubazir. Jadi dibangun pakai kapal, sehinga jika migasnya sudah habis pindah lagi ke lapangan yang kecil-kecil," imbuh dia.
Mantan petinggi BP Migas ini juga menyatakan bahwa Petronas membangun sendiri kilang FLNG-nya. Lain halnya dengan Indonesia, di mana Blok Masela dikuasai dan dibangun oleh Shell.
"Jadi begitu. Tapi dibangun oleh Petronas sendiri, bukan oleh Shell, sehingga poverty right atau kebanggaannya si Petronas bisa ngomong. Lain dengan Masela. Pertamina atau Indonesia tidak bisa ngomong. Shell yang sukses bangun di FLNG," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR Inas Nasrullah Zubir menilai, pemerintah Indonesia terlalu sibuk berdebat soal penetapan model pengolahan perencanaan pengembangan (plan of development/POD) di Lapangan Abadi, Blok Masela.
Padahal, Malaysia melalui Petronas telah berhasil menjadi negara pertama yang membangun fasilitas terapung gas alam cair (FLNG) yang diberi nama Petronas FLNG SATU. "Kita kalah dengan Malaysia yang sudah membangun FLNG. Padahal masih ada blok-blok gas lepas pantai di Indonesia yang seharusnya menjadi peluang Indonesia untuk membangun FLNG lainnya," katanya di Jakarta, kemarin.
Baca: Ribut Blok Masela, RI Tertinggal dari Malaysia Soal FLNG
Tenaga Ahli bidang Energi Kemenko bidang Kemaritiman Haposan Napitupulu mengatakan, Petronas memang telah lebih dulu membangun FLNG untuk kilang di blok migas miliknya. Namun, blok migas yang dimaksud memiliki skala jauh lebih kecil dibanding Blok Masela.
"Petronas katanya membangun FLNG. Ya betul Petronas membangun FLNG dengan justifikasi bahwa lapangan yang dibangun Petronas itu kecil dan tidak termanfaatkan selama ini," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (11/3/2016).
Selain itu, alasan lain dibangunnya kilang FLNG di Malaysia lantaran mereka mengalami kesulitan jika membangun kilangnya di darat dengan skema pipanisasi (onshore). Sebab, jika dialirkan ke darat namun lapangan migasnya kecil maka pipa yang dibangun akan mubazir.
"Karena kalau dialirkan ke darat, lapangannya itu kecil dan diproyeksikan cuma 3-5 tahun. Dan kalau bangun pipa ke darat yang jauh, cuma 3-5 tahun terlalu mubazir. Jadi dibangun pakai kapal, sehinga jika migasnya sudah habis pindah lagi ke lapangan yang kecil-kecil," imbuh dia.
Mantan petinggi BP Migas ini juga menyatakan bahwa Petronas membangun sendiri kilang FLNG-nya. Lain halnya dengan Indonesia, di mana Blok Masela dikuasai dan dibangun oleh Shell.
"Jadi begitu. Tapi dibangun oleh Petronas sendiri, bukan oleh Shell, sehingga poverty right atau kebanggaannya si Petronas bisa ngomong. Lain dengan Masela. Pertamina atau Indonesia tidak bisa ngomong. Shell yang sukses bangun di FLNG," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR Inas Nasrullah Zubir menilai, pemerintah Indonesia terlalu sibuk berdebat soal penetapan model pengolahan perencanaan pengembangan (plan of development/POD) di Lapangan Abadi, Blok Masela.
Padahal, Malaysia melalui Petronas telah berhasil menjadi negara pertama yang membangun fasilitas terapung gas alam cair (FLNG) yang diberi nama Petronas FLNG SATU. "Kita kalah dengan Malaysia yang sudah membangun FLNG. Padahal masih ada blok-blok gas lepas pantai di Indonesia yang seharusnya menjadi peluang Indonesia untuk membangun FLNG lainnya," katanya di Jakarta, kemarin.
Baca: Ribut Blok Masela, RI Tertinggal dari Malaysia Soal FLNG
(izz)
Lihat Juga :