Penyebab Kisruh Rizal Ramli-Sudirman Said Soal Blok Masela
Jum'at, 11 Maret 2016 - 16:24 WIB
Penyebab Kisruh Rizal Ramli-Sudirman Said Soal Blok Masela
A
A
A
JAKARTA - Tenaga Ahli Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Sumber Daya, Abdul Rachim mengungkapkan penyebab kisruh yang terjadi antara dua menteri soal Blok Masela, Maluku adalah terkait hitungan investasi pembangunan kilang darat dan laut.
Menurutnya Tim Fortuga yang menjadi basis perhitungan Menko Maritim Rizal Ramli berbeda dengan Inpex dan Shell yang menjadi basis hitung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dan SKK Migas.
"Fortuga hitung kilang laut lebih mahal dari darat. Inpex bilangnya laut lebih murah dari darat. Itungannya (Inpex-Shell) terbalik," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (11/3/2016).
(Baca Juga: Jawaban Tim Rizal Ramli Soal Debat dengan Sudirman Said)
Dia menyebutkan, dalam perhitungan Inpex dan Shell, biaya investasi untuk pembangunan kilang laut di Masela yang berkapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun adalah sekitar USD14,8 miliar. Padahal, proyek FLNG serupa yang tengah dibangun di Australia dan hanya berkapasitas 3,6 juta ton LNG per tahun membutuhkan biaya USD12,6 miliar.
"Masela punya kapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun, tapi kok hitungan biayanya hanya USD14,8 miliar. Itu kan dua kali lipat Prelude (Australia), kenapa harganya cuma 20% di atas Prelude, tidak masuk akal," tutur dia.
Menurutnya, hitungan Inpex tersebut telah dijiplak mentah-mentah oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kementerian ESDM serta dipresentasikan kepada Presiden Jokowi. "Hitungan Inpex ini yang dijiplak mentah-mentah SKK Migas dan bikin kisruh," imbuhnya.
Karena itu lanjut dia, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli sangat menentang hal tersebut. Mantan Menko bidang Perekonomian ini menginginkan agar kilang dibangun di darat. Lantaran selain lebih murah, multiplier effect untuk masyarakat sekitar sangat besar.
"Bisa dibuat petrokimia, amonia bisa dikirim ke pabrik pupuk dengan kapal sederhana saja. Ini duduk persoalannya. Kembali pada hitungan yang diputar-balik," ungkapnya.
Sementara hitungan Fortuga untuk kilang darat, tambahnya, berdasarkan pengalaman pembangunan 16 kilang darat (onshore) yang pernah ada di Indonesia. Dia mengklaim, Inpex dan Shell telah mengecilkan angka investasi (mark-down) agar bisa mendapatkan kontrak tersebut.
"Kalau sudah dapat, ya dinaikkan harganya, itu biasa terjadi di dunia oil and gas. Itu ulu lah. Kita tidak mau lagi yang seperti itu," pungkasnya.
Seperti diketahui dua menteri dalam Kabinet Kerja yakni Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli dan Menteri ESDM Sudirman Said saat ini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, dua pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini berbeda pendapat mengenai rencana pembangunan kilang di Blok Masela, Maluku dan pada akhirnya menimbulkan kekisruhan di ruang publik.
Rizal Ramli menginginkan agar pembangunan kilang menggunakan skema pipanisasi di darat (onshore LNG/OLNG), sementara Sudirman Said menginginkan agar kilang dibangun di laut menggunakan skema LNG terapung (floating LNG/FLNG/offshore).
Menurutnya Tim Fortuga yang menjadi basis perhitungan Menko Maritim Rizal Ramli berbeda dengan Inpex dan Shell yang menjadi basis hitung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dan SKK Migas.
"Fortuga hitung kilang laut lebih mahal dari darat. Inpex bilangnya laut lebih murah dari darat. Itungannya (Inpex-Shell) terbalik," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (11/3/2016).
(Baca Juga: Jawaban Tim Rizal Ramli Soal Debat dengan Sudirman Said)
Dia menyebutkan, dalam perhitungan Inpex dan Shell, biaya investasi untuk pembangunan kilang laut di Masela yang berkapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun adalah sekitar USD14,8 miliar. Padahal, proyek FLNG serupa yang tengah dibangun di Australia dan hanya berkapasitas 3,6 juta ton LNG per tahun membutuhkan biaya USD12,6 miliar.
"Masela punya kapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun, tapi kok hitungan biayanya hanya USD14,8 miliar. Itu kan dua kali lipat Prelude (Australia), kenapa harganya cuma 20% di atas Prelude, tidak masuk akal," tutur dia.
Menurutnya, hitungan Inpex tersebut telah dijiplak mentah-mentah oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kementerian ESDM serta dipresentasikan kepada Presiden Jokowi. "Hitungan Inpex ini yang dijiplak mentah-mentah SKK Migas dan bikin kisruh," imbuhnya.
Karena itu lanjut dia, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli sangat menentang hal tersebut. Mantan Menko bidang Perekonomian ini menginginkan agar kilang dibangun di darat. Lantaran selain lebih murah, multiplier effect untuk masyarakat sekitar sangat besar.
"Bisa dibuat petrokimia, amonia bisa dikirim ke pabrik pupuk dengan kapal sederhana saja. Ini duduk persoalannya. Kembali pada hitungan yang diputar-balik," ungkapnya.
Sementara hitungan Fortuga untuk kilang darat, tambahnya, berdasarkan pengalaman pembangunan 16 kilang darat (onshore) yang pernah ada di Indonesia. Dia mengklaim, Inpex dan Shell telah mengecilkan angka investasi (mark-down) agar bisa mendapatkan kontrak tersebut.
"Kalau sudah dapat, ya dinaikkan harganya, itu biasa terjadi di dunia oil and gas. Itu ulu lah. Kita tidak mau lagi yang seperti itu," pungkasnya.
Seperti diketahui dua menteri dalam Kabinet Kerja yakni Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli dan Menteri ESDM Sudirman Said saat ini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, dua pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini berbeda pendapat mengenai rencana pembangunan kilang di Blok Masela, Maluku dan pada akhirnya menimbulkan kekisruhan di ruang publik.
Rizal Ramli menginginkan agar pembangunan kilang menggunakan skema pipanisasi di darat (onshore LNG/OLNG), sementara Sudirman Said menginginkan agar kilang dibangun di laut menggunakan skema LNG terapung (floating LNG/FLNG/offshore).
(akr)
Lihat Juga :