Pertumbuhan Sektor Perbankan Tahun Ini Diprediksi Positif
Kamis, 17 Maret 2016 - 03:29 WIB
Pertumbuhan Sektor Perbankan Tahun Ini Diprediksi Positif
A
A
A
JAKARTA - Sektor perbankan diprediksi menunjukkan tren pertumbuhan positif dan ketahanan bank tetap solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit dan simpanan, dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga, serta rasio kecukupan modal yang relatif tinggi (CAR).
"Apalagi diversifikasi portfolio pada instrumen investasi, seperti reksadana, obligasi, dan transaksi forex dapat dijadikan alternatif bagi nasabah," ujar Ekonom Bank OCBC Singapura, Wellian Wiranto, saat menyelenggarakan media briefing Indonesia Market Outlook di Jakarta, Rabu (17/3/2016).
Pelonggaran kebijakan yang terjadi saat ini, maka untuk investor dengan risk profile konservatif, diversifikasi dapat dilakukan melalui obligasi dengan tenor maksimal 10 tahun.
Namun, sektor perbankan diminta untuk tetap waspada pasalnya rasio Non Performing Loan (NPL/rasio kredit bermasalah) yang masih cenderung mengalami kenaikan meski melambat. "Dari sektor perbankan cenderung harus berhati-hati, kredit yang disalurkan bank juga harus hati-hati," ujarnya.
Dia mengungkapkan, ke depan NPL untuk sektor komoditas diprediksi masih menjadi fokus utama, mengingat harga komoditas yang masih mengalami penurunan. Meski demikian, lanjut dia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) telah bekerjasama untuk menjaga NPL di level yang sehat.
Sementara itu, menguatnya rupiah di level Rp13.000, pada awal 2016, diikuti dengan dipangkasnya suku bunga hingga dua kali ke level 7% oleh Bank Indonesia membawa aura positif untuk iklim investasi. Diprediksi sampai dengan akhir tahun 2016, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga hingga ke level 6,5%. "Giro Wajib Minimum (GWM) juga akan ikut diturunkan persentasenya," ucapnya.
Menurut Wellian, hal ini akan memberikan efek positif terhadap kenaikan portfolio kredit. Salah satu faktor penguatnya adalah fokus perekonomian Indonesia pada pengembangan infrastruktur.
Dia pun meyakini, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka 5,1%. Hal tersebut didukung oleh penyaluran pengeluaran pemerintah yang mulai terealisasi. "Salah satu faktor buat katalis Pertumbuhan Ekonomi yakni tax amesty meskipun belum dijadikan UU tapi kalau ini jadi realita ini bisa jadi dana yang bagus bagi Indoensia dan bisa bawa sentimen bagus bagi pelaku pasar," papar Head of Wealth Advisory, Juky Mariska.
Selain itu, lanjut dia, diperkirakan rupiah akan kembali stabil meski masih sensitif mengalami gejolak akibat sentimen di pasar global. Namun, sentimen di pasar global jauh lebih stabil dikarenakan adanya penurunan suku bunga oleh bank Indonesia.
Wellian optimistis BI akan kembali menurunkan suku bunga menjadi 6,75%, sehingga akhir 2016, suku bunga (bi rate) bisa di angka 6,5%. "Kalau suku bunga diturunin kan bisa tingkatkan penyaluran kredit di Indonesia. BI akan bisa turunin lagi sampai dua kali hingga akhir tahun," tandasnya.
"Apalagi diversifikasi portfolio pada instrumen investasi, seperti reksadana, obligasi, dan transaksi forex dapat dijadikan alternatif bagi nasabah," ujar Ekonom Bank OCBC Singapura, Wellian Wiranto, saat menyelenggarakan media briefing Indonesia Market Outlook di Jakarta, Rabu (17/3/2016).
Pelonggaran kebijakan yang terjadi saat ini, maka untuk investor dengan risk profile konservatif, diversifikasi dapat dilakukan melalui obligasi dengan tenor maksimal 10 tahun.
Namun, sektor perbankan diminta untuk tetap waspada pasalnya rasio Non Performing Loan (NPL/rasio kredit bermasalah) yang masih cenderung mengalami kenaikan meski melambat. "Dari sektor perbankan cenderung harus berhati-hati, kredit yang disalurkan bank juga harus hati-hati," ujarnya.
Dia mengungkapkan, ke depan NPL untuk sektor komoditas diprediksi masih menjadi fokus utama, mengingat harga komoditas yang masih mengalami penurunan. Meski demikian, lanjut dia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) telah bekerjasama untuk menjaga NPL di level yang sehat.
Sementara itu, menguatnya rupiah di level Rp13.000, pada awal 2016, diikuti dengan dipangkasnya suku bunga hingga dua kali ke level 7% oleh Bank Indonesia membawa aura positif untuk iklim investasi. Diprediksi sampai dengan akhir tahun 2016, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga hingga ke level 6,5%. "Giro Wajib Minimum (GWM) juga akan ikut diturunkan persentasenya," ucapnya.
Menurut Wellian, hal ini akan memberikan efek positif terhadap kenaikan portfolio kredit. Salah satu faktor penguatnya adalah fokus perekonomian Indonesia pada pengembangan infrastruktur.
Dia pun meyakini, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka 5,1%. Hal tersebut didukung oleh penyaluran pengeluaran pemerintah yang mulai terealisasi. "Salah satu faktor buat katalis Pertumbuhan Ekonomi yakni tax amesty meskipun belum dijadikan UU tapi kalau ini jadi realita ini bisa jadi dana yang bagus bagi Indoensia dan bisa bawa sentimen bagus bagi pelaku pasar," papar Head of Wealth Advisory, Juky Mariska.
Selain itu, lanjut dia, diperkirakan rupiah akan kembali stabil meski masih sensitif mengalami gejolak akibat sentimen di pasar global. Namun, sentimen di pasar global jauh lebih stabil dikarenakan adanya penurunan suku bunga oleh bank Indonesia.
Wellian optimistis BI akan kembali menurunkan suku bunga menjadi 6,75%, sehingga akhir 2016, suku bunga (bi rate) bisa di angka 6,5%. "Kalau suku bunga diturunin kan bisa tingkatkan penyaluran kredit di Indonesia. BI akan bisa turunin lagi sampai dua kali hingga akhir tahun," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :