USD Kalah Lawan Euro, Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Rabu, 23 Maret 2016 - 10:16 WIB
USD Kalah Lawan Euro,...
USD Kalah Lawan Euro, Rupiah Dibuka Menguat Tipis
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini dibuka menguat setelah kemarin ditutup semakin melemah di zona merah. Peguatan rupiah hari ini di tengah naik tipisnya euro terhadap USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.167/USD. Posisi ini jauh melemah dari posisi kemarin yang berada di posisi Rp13.175/USD.

Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance hari ini dibuka juga menguat di level Rp13.143/USD dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.190/USD. Rupiah terus bergerak dan pada pukul 09.55 WIB rupiah barada di level Rp13.190/USD.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka melemah atau berada di level Rp13.167/USD dengan kisaran Rp13.152-Rp13.185/USD atau menguat dibanding penutupan kemarin di level Rp13.184/USD dan pada pukul 09.55 WIB bergerak ke level Rp13.177/USD.

Sementara, berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 09.55 WIB berada di level Rp13.185/USD. Posisi ini terlihat menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.195/USD.

Dilansir dari Reuters, USD turun tipis pada pembukaan hari ini karena investor Asia bereaksi terhadap berita semalam atas serangan di Brussels, meskipun ada komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait mata uang AS.

Indeks USD terhadap enam mata uang rival utama, turun tipis ke level 95,611. Euro terhadap USD pun terlihat naik tipis sekitar 0,1% menjadi 1,1218.

USD turun 0,1% lebih rendah terhadap yen ke posisi 112,26. Namun, hal itu tetap di atas posisi rendah yang terjadi kemarin di level 111,38 serta terendah 17 bulan di level 110,67.

Presiden Fed Chicago, Charles Evans mengharapkan dua kenaikan tahun ini, kecuali data ekonomi menguat dari yang diharapkan atau inflasi mengambil lebih cepat daripada yang diantisipasi.

Evans tidak memiliki suara pada kebijakan tahun ini, tetapi dia dikenal sebagai salah satu pembuat kebijakan yang paling dovish di bank sentral AS. Pernyataannya menyusul komentar dari tiga pejabat Fed lainnya Fed bahwa semua kenaikan tingkat suku bunga disarankan bisa lebih awal.

"Evans biasanya bersandar ke arah tingkat yang lebih rendah, sehingga sangat menarik bahwa dia senang berbicara tentang dua kenaikan tahun ini," kata Sean Callow, ahli strategi mata uang senior di Westpac.

Sterling terhadap USD juga naik tipis 0,1% ke level 1,4224, setelah jatuh lebih dari 1% ke posisi terendah dalam satu pekan.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Tips MotionTrade: Modus...
Tips MotionTrade: Modus Penipuan Berkedok Customer Service, Investor Wajib Waspada!
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Berakhir...
IHSG Hari Ini Berakhir Ambles ke 6.116, Transaksi Cetak Rp13,4 Triliun
1 jam yang lalu
Penerbangan Umrah Dipindah...
Penerbangan Umrah Dipindah Mulai 1 Juli 2026, Terpusat di Terminal 2F Bandara Soetta
2 jam yang lalu
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
3 jam yang lalu
Dipanggil Prabowo Gara-gara...
Dipanggil Prabowo Gara-gara Mati Lampu, Dirut PLN: Kami Mohon Doa
3 jam yang lalu
2 Pembangkit Besar Jadi...
2 Pembangkit Besar Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa, Dirut PLN: Satu Berhasil Pulih
4 jam yang lalu
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved