Pengusaha SPBU Akui Hitungan Harga BBM Beda dari Pemerintah
Jum'at, 25 Maret 2016 - 10:18 WIB
Pengusaha SPBU Akui Hitungan Harga BBM Beda dari Pemerintah
A
A
A
JAKARTA - Pengusaha SPBU yang tergabung dalam Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) memiliki hitungan sendiri terkait harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.
Ketua II DPP Hiswana Migas M Ismeth mengaku, hasil hitungan harga keekonomian premium antara pihaknya dengan pemerintah berbeda. "Hitungannya saja ada tapi buat internal, hitungannya sama pemerintah beda. Ada hitungannya, tentu kita tetap ikutin harga pemerintah," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Jumat (25/3/2016).
Ismeth menjelaskan, meski memiliki hitungan harga berbeda dengan pemerintah, namun pengusaha SPBU tidak bisa menentukan harga premium itu sendiri. "Hitungannya punya, tapi kita enggak bisa nentuin harga sendiri. Yang tentukan pemerintah dan Pertamina," kata dia.
Faktor yang menjadi dasar hitungan, kata dia, di antaranya upah pegawai, pergerakan harga minyak dunia dan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Banyak faktornya, upah pegawai, nilai tukar USD dan harga minyak dunia. Kita tidak bisa kasih tahu berapa hitungannya," pungkas Ismeth.
Baca:
Penurunan Harga BBM Tak Terlalu Besar, Ini Alasan Menteri ESDM
Menteri ESDM Pastikan Harga BBM Turun Tak Sampai Rp1.000
Pertamina Beri Sinyal Harga BBM Turun Lagi
Ketua II DPP Hiswana Migas M Ismeth mengaku, hasil hitungan harga keekonomian premium antara pihaknya dengan pemerintah berbeda. "Hitungannya saja ada tapi buat internal, hitungannya sama pemerintah beda. Ada hitungannya, tentu kita tetap ikutin harga pemerintah," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Jumat (25/3/2016).
Ismeth menjelaskan, meski memiliki hitungan harga berbeda dengan pemerintah, namun pengusaha SPBU tidak bisa menentukan harga premium itu sendiri. "Hitungannya punya, tapi kita enggak bisa nentuin harga sendiri. Yang tentukan pemerintah dan Pertamina," kata dia.
Faktor yang menjadi dasar hitungan, kata dia, di antaranya upah pegawai, pergerakan harga minyak dunia dan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Banyak faktornya, upah pegawai, nilai tukar USD dan harga minyak dunia. Kita tidak bisa kasih tahu berapa hitungannya," pungkas Ismeth.
Baca:
Penurunan Harga BBM Tak Terlalu Besar, Ini Alasan Menteri ESDM
Menteri ESDM Pastikan Harga BBM Turun Tak Sampai Rp1.000
Pertamina Beri Sinyal Harga BBM Turun Lagi
(izz)
Lihat Juga :