Rupiah Awal Pekan Dibuka Ambruk Saat USD Perkasa
Senin, 28 Maret 2016 - 10:30 WIB
Rupiah Awal Pekan Dibuka Ambruk Saat USD Perkasa
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini dibuka terus merosot berada pada kisaran level Rp13.300/USD. Pelemahan mata uang Garuda di awal pekan ini terjadi ketika USD makin perkasa melawan euro dan yen terdorong pernyataan para pejabat tinggi The fed atau Bank Sentral Amerika Serikat.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah mengawali hari ini pada posisi Rp13.323/USD. Posisi ini jauh melemah dari posisi tengah pekan kemarin sebelum libur panjang di level Rp13.250/USD.
Posisi rupiah pagi ini menurut data Bloomberg berada di level Rp13.332/USD dengan kisaran harian Rp13.242-Rp13.337/USD atau melemah sebesar 74 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp13.258/USD.
Sementara, berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada sesi pembukaan ada di level Rp13.250/USD Posisi ini terlihat membaik dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.260/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance hari ini dibuka menyusut ke level Rp13.335/USD dengan kisaran harian di awal pekan Rp13.335-Rp13.335/USD. Posisi tersebut turun 50 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp13.285/USD.
Dilansir dari Reuters, Senin (28/3/2016) Indeks dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat hari ini terpengaruh pernyataan petinggi The Fed, James Bullard yang memberi sinyal suku bunga acuan (Fed rate) akan kembali naik. "Kinerja jangka pendek USD akan tergantung kepada data US non-farm payrolls dan PMI manufaktur," ucap Ahli Strategi FX Jepang di Bank of America Merrill Lynch, Shusuke Yamada.
Data ekonomi AS lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan USD pekan ini termasuk indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dan indeks pembelian manajemen (PMI). "Pernyataan oleh Fed, Yellen dan Dudley juga akan menjadi fokus. Mereka adalah anggota Dewan inti Fed dan USD akan didukung jika mereka mengekspresikan pandangannya," lanjut Yamada.
USD tercatat naik 0,2% menjadi 113,375 terhadap yen setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 12 hari di posisi 134.400. Sementara euro melemah 0,1% menjadi 1.1160 melawan USD setelah menyusut 0,9% pekan lalu. Sedangkan indeks dolar AS menguat 1,3 selama satu pekan kemarin dan menyentuh posisi tertinggi sejak 16 Maret pada level 96.368.
Bloomberg mengemukakan USD rebound tajam dalam sepekan setelah pernyataan hawkish dari sejumlah petinggi The Fed. Akibatnya, indeks dolar AS pulih kembali ke atas level 96 atau menguat 0,09% pagi tadi.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah mengawali hari ini pada posisi Rp13.323/USD. Posisi ini jauh melemah dari posisi tengah pekan kemarin sebelum libur panjang di level Rp13.250/USD.
Posisi rupiah pagi ini menurut data Bloomberg berada di level Rp13.332/USD dengan kisaran harian Rp13.242-Rp13.337/USD atau melemah sebesar 74 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp13.258/USD.
Sementara, berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada sesi pembukaan ada di level Rp13.250/USD Posisi ini terlihat membaik dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.260/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance hari ini dibuka menyusut ke level Rp13.335/USD dengan kisaran harian di awal pekan Rp13.335-Rp13.335/USD. Posisi tersebut turun 50 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp13.285/USD.
Dilansir dari Reuters, Senin (28/3/2016) Indeks dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat hari ini terpengaruh pernyataan petinggi The Fed, James Bullard yang memberi sinyal suku bunga acuan (Fed rate) akan kembali naik. "Kinerja jangka pendek USD akan tergantung kepada data US non-farm payrolls dan PMI manufaktur," ucap Ahli Strategi FX Jepang di Bank of America Merrill Lynch, Shusuke Yamada.
Data ekonomi AS lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan USD pekan ini termasuk indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dan indeks pembelian manajemen (PMI). "Pernyataan oleh Fed, Yellen dan Dudley juga akan menjadi fokus. Mereka adalah anggota Dewan inti Fed dan USD akan didukung jika mereka mengekspresikan pandangannya," lanjut Yamada.
USD tercatat naik 0,2% menjadi 113,375 terhadap yen setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 12 hari di posisi 134.400. Sementara euro melemah 0,1% menjadi 1.1160 melawan USD setelah menyusut 0,9% pekan lalu. Sedangkan indeks dolar AS menguat 1,3 selama satu pekan kemarin dan menyentuh posisi tertinggi sejak 16 Maret pada level 96.368.
Bloomberg mengemukakan USD rebound tajam dalam sepekan setelah pernyataan hawkish dari sejumlah petinggi The Fed. Akibatnya, indeks dolar AS pulih kembali ke atas level 96 atau menguat 0,09% pagi tadi.
(akr)