Rupiah Berpotensi Masih Perkasa hingga Akhir Pekan
Kamis, 31 Maret 2016 - 08:30 WIB
Rupiah Berpotensi Masih Perkasa hingga Akhir Pekan
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah pada hari ini diperkirakan masih akan mengalami apresiasi meskipun tidak terlalu signifikan. Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menerangkan tren penguatan rupiah berpotensi bertahan hingga akhir pekan ini ketika ada kecenderungan dolar Amerika Serikat (AS) bakal melemah di level tertentu.
Dia menambahkan apalagi ketika negara-negara emerging market juga mengalami penguatan karena faktor regional, yang membuat mata uang mereka sedikit terapresiasi. Mata uang Garuda sendiri pada perdagangan kemarin tercatat menguat hingga sesi penutupan berakhir pada kisaran level Rp13.200/USD.
"Sampai akhir minggu, mungkin prediksinya akan berada di Rp13.150-Rp13.250/USD. Ini ada kecenderungan USD mengalami pelemahan. Dan mata uang negara emerging market juga rata-rata menguat," jelas dia kepada Sindonews, Jakarta, Kamis (31/3/2016).
Lanjut dia hal ini juga terpengaruh pada keputusan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) yang belum akan menurunkan bunga di April 2016 nanti. Sehingga akibatnya para pelaku pasar menurutnya masih akan ketar ketir terkait kondisi pasar yang akan tidak terjadi.
"April ini The Fed belum akan menurunkan bunga. Ada spekulasi kwaktu itu dari dewan direksi sana, yang mengatakan, bisa saja turun April. Namun, kemudian Janet Yellen bilang dua hari lalu dalam pidatonya, belum akan turun," pungkasnya.
Dia menambahkan apalagi ketika negara-negara emerging market juga mengalami penguatan karena faktor regional, yang membuat mata uang mereka sedikit terapresiasi. Mata uang Garuda sendiri pada perdagangan kemarin tercatat menguat hingga sesi penutupan berakhir pada kisaran level Rp13.200/USD.
"Sampai akhir minggu, mungkin prediksinya akan berada di Rp13.150-Rp13.250/USD. Ini ada kecenderungan USD mengalami pelemahan. Dan mata uang negara emerging market juga rata-rata menguat," jelas dia kepada Sindonews, Jakarta, Kamis (31/3/2016).
Lanjut dia hal ini juga terpengaruh pada keputusan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) yang belum akan menurunkan bunga di April 2016 nanti. Sehingga akibatnya para pelaku pasar menurutnya masih akan ketar ketir terkait kondisi pasar yang akan tidak terjadi.
"April ini The Fed belum akan menurunkan bunga. Ada spekulasi kwaktu itu dari dewan direksi sana, yang mengatakan, bisa saja turun April. Namun, kemudian Janet Yellen bilang dua hari lalu dalam pidatonya, belum akan turun," pungkasnya.
(akr)