Ekonom Minta Menkeu Jangan Diutak-atik

Senin, 04 April 2016 - 19:32 WIB
Ekonom Minta Menkeu...
Ekonom Minta Menkeu Jangan Diutak-atik
A A A
JAKARTA - Menjelang isu reshuffle alias perombakan Kabinet Kerja, terbersit kabar bahwa Menteri Keuangan Bambang Permadi Brodjonegoro bakal diganti. Ia dianggap bekerja tidak sesuai dengan konsep Nawa Cita yang diusung Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Namun perihal isu pergantian Menkeu Bambang mendapat perhatian kalangan ekonom.

Posisi menkeu sebagai posisi kunci dinilai tidak perlu diutak-atik. Hal ini disampaikan ekonom dari Standard Chartered Bank, Eric Sugandi. Dia mengatakan, sejauh ini, Menkeu Bambang sudah berusaha melakukan kebijakan fiskal secara terarah dan efektif. Meski, diakuinya, di awal-awal masa jabatannya ada beberapa target yang belum tercapai.

“Dia itu posisi kunci, jadi jangan diutak-atik. Sejauh ini juga, beliau sudah menjalankan kebijakan fiskal yang bagus dan terarah meski di awal-awal mungkin sempat kaget karena penerimaan tidak tercapai. Namun kemudian direvisi,” kata Eric di Jakarta, Senin (4/4/2016).

Menurut Eric, meski di awal masa jabatannya ada yang kurang, namun bukan sepenuhnya kesalahan Bambang. “Kalau dikaitkan dengan Nawa Cita, itu merupakan tanggung jawab kolektif pemerintahan bukan tanggung jawab perorangan,” sambungnya.

Kebijakan yang dilakukan Menkeu Bambang, terang Eric, sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Kabinet Kerja. Ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal IV yang sudah rebound. Dan diperkirakan di kuartal I 2016 akan semakin membaik.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Lagu Bahasa Kalbu Mengiringi...
Lagu Bahasa Kalbu Mengiringi Kepergian Sri Mulyani dari Kementerian Keuangan
Pak Jokowi, Anggaran...
Pak Jokowi, Anggaran Perlindungan Sosial Baru Tersalur 37,96%
Arahan Jokowi, Wamenkeu...
Arahan Jokowi, Wamenkeu Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM 30%
Disentil Jokowi, Sri...
Disentil Jokowi, Sri Mulyani Bongkar Penyebab Defisit APBN Melebar Rp1.039,2 T
Menkeu Sebut Separuh...
Menkeu Sebut Separuh Masyarakat RI Masih Tinggal di Desa
Diperpanjang Sampai...
Diperpanjang Sampai Desember, Nilai Bansos Turun Jadi Rp300.000/Bulan
Berita Terkini
S&P Dow Jones Ancam...
S&P Dow Jones Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia, BEI Buka Suara
4 menit yang lalu
Asabri Kolaborasi Beri...
Asabri Kolaborasi Beri Kemudahan Kepemilikan Kendaraan bagi Peserta
1 jam yang lalu
Superbank Gandeng OVO...
Superbank Gandeng OVO Perluas Akses Pembiayaan Digital Satu Aplikasi
1 jam yang lalu
Koper Jadi Ukuran Baru...
Koper Jadi Ukuran Baru Kenyamanan, Piece Concept Mulai Dibicarakan Penumpang RI
1 jam yang lalu
Lagi-lagi, Rupiah Kembali...
Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
1 jam yang lalu
Komisi Ojol 8% Berlaku,...
Komisi Ojol 8% Berlaku, Menteri UMKM Klaim Mayoritas Pengemudi Diuntungkan
1 jam yang lalu
Infografis
Waspada 8 Gejala Awal...
Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Jangan Dianggap Sepele
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved