Harga Beras Tinggi, Bulog Perlu Direvitalisai

Sabtu, 23 April 2016 - 22:00 WIB
Harga Beras Tinggi,...
Harga Beras Tinggi, Bulog Perlu Direvitalisai
A A A
JAKARTA - Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Memenuhi ketersediaannya, menjamin keterjangkauan harganya, memastikan akses, dan menjamin kualitasnya adalah mutlak dalam menjaga ketentraman masyarakat dan ketananan nasional.

Ironinya, pemerintah saat ini dinilai gagal menentukan fokus dan strategi mengelola beras agar stabil. Revitaliasi Perum Bulog harus dilakukan demi mengembalikan perannya melindungi konsumen dan petani.

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati mengatakan, posisi Bulog harus direvitalisasi sebagai stabilisator beras di pasar. Persoalan kelembagaan ini tidak hanya menjadi pintu masuk dalam menyelesaikan salah urus beras, dimana ‎status komando saat ini pada Bulog berbelit dan akhirnya menyulitkan menjalankan tugas utama.

"Status komando Bulog yang ribet, Bulog akan sulit untuk berperan sebagai penstabil harga," ucap Enny, dalam diskusi ‘Salah Urus Beras’ yang digelar Lembaga Kajian Pangan dan Pemberdayaan di Jakarta, Sabtu (23/4/2016).

Data lapangan berbicara, harga beras terendah saat ini di atas Rp10 ribu per kilogram, mendekati harga terendah di November 2015 Rp10.472 per kg. Kenaikan harga beras di pasar dinilai akan terus terjadi, seperti kenaikan harga di November 2014 sebesar Rp9.221 per kg yang naik Rp800 ke November 2015. Hal ini ironis apabila Kementerian Pertanian mengatakan adanya surplus produksi.

Karena itu, Enny menganggap permasalahan beras disebabkan pemerintah absen dalam menyusun kebijakan yang pro terhadap kesejahteraan petani. Dan kata dia, Bulog juga memiliki kendala yang mengakibatkan tidak optimalnya dalam melakukan penyerapan gabah beras.

Selain itu, persoalan beras juga terjadi di tingkat petani yang mengeluhkan krisis kelembagaan sektor hulu, seperti Balai Penyuluhan yang tidak sesuai fungsinya. Misalnya, ‎penggunaan alat mesin pertanian kerap tidak dapat dimanfaatkan petani, tapi malah dipinjamkan lembaga-lembaga pertanian di berbagai daerah untuk fungsi yang berbeda.

Kondisi tersebut karena rapuhnya kelembagaan Bulog. “Bulog inikan bapaknya banyak, ada Kementan, Kemendag, BUMN, Kemensos, dan TNI. Siapapun yang jadi dirut Bulog pasti akan mengalami kesulitan menghadapi model kelembagaan seperti ini,” ujarnya menambahkan.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jual Beras Bulog di...
Jual Beras Bulog di Atas Rp9.400 per Kg Bakal Dipidana
Dukung Pertumbuhan UMKM...
Dukung Pertumbuhan UMKM di Platorm Digital Ralali Gandeng Bulog
Beras Langka di Pasar...
Beras Langka di Pasar Ritel Modern, Bos Bulog Bilang Begini
Stabilkan Harga Beras,...
Stabilkan Harga Beras, Bulog Klaim Telah Salurkan 226.000 Ton
Harga Beras SHPP Naik,...
Harga Beras SHPP Naik, Bos Bulog Klaim Permintaan Tetap Tinggi
Kendalikan Harga Beras...
Kendalikan Harga Beras Jelang Akhir Tahun 2025, Begini Jurus Bulog
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
1 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
1 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
2 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
2 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
2 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
2 jam yang lalu
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved