IHSG Dibuka Tertekan ke Zona Merah, Bursa Jepang Tergelincir
Selasa, 26 April 2016 - 09:52 WIB
IHSG Dibuka Tertekan ke Zona Merah, Bursa Jepang Tergelincir
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini dibuka tertekan ke zona merah melanjutkan tren negatif seperti penutupan awal pekan kemarin. IHSG hari ini dibuka melemah 18,47 poin atau 0,38% ke level 4.860.39 seiring pergerakan mixed bursa Asia ketika bursa Jepang melemah 0,65%.
Tercatat pada pada perdagangan kemarin IHSG berakhir anjlok 35,88 poin atau 0,73% ke level 4.878,86 di tengah kejatuhan mayoritas bursa utama Asia. Kini dilansir Reuters, Selasa (26/4/2016) bursa Asia terlihat defensif saat harga minyak mulai membaik dan investor masih menanti pertemuan The Fed dan Bank Of Japan (BOJ).
Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang mengalami penurunan 0,1%, sedangkan bursa Jepang tergelincir 114,22 poin atau 0,65% ke level 17.325,08. Sementara bursa saham AS juga melemah ketika indeks S&P 500 turun 0,18 persen menjadi 2,088, setelah sempat menyentuh level tertinggi tengah pekan lalu.
Adapun saham utama Asia bergerak mixed saat bursa Jepang melemah, indeks Shanghai justru menguat dengan kenaikan 1,77 poin atau 0,06% ke level 2.948,44. Sedangkan indeks Hang Seng menyusut 133,87 poin atau 0,63% ke posisi 21.170,57 diikuti pelemahan indeks Straits Times yang turun 12,52 poin atau 0,43% ke level 2.887,76.
Faktanya pasar melihat ada kemungkinan terkait kenaikan suku bunga jelang pertemuan The Fed dan BOJ pekan ini. Pejabat Federal Reserve sendiri telah berulang kali menekankan bahwa kenaikan akan terjadi pada Juni, mendatang.
"Pembuat kebijakan bahkan dovish seperti Rosengren (Presiden Boston Fed, Eric) mengatakan ekspektasi pasar terlalu rendah. Sehingga sulit membayangkan Fed saat ini terlalu rendah, jadi mungkin mereka akan mencoba mendorong pasar ke level yang lebih tinggi. Terkait keseimbangan, kami kemungkinan mempunyai kejutan hawkish daripada kejutan dovish," terang Strategi Nomura Securities, Tomoaki Shishido.
Sementara itu sektor saham dalam negeri bergerak mayoritas berada pada tren negatif. Sektor dengan pelemahan terdalam yakni sektor keuangan yang anjlok 1,87% dan diikuti kejatuhan sektor aneka industri sebesar 1,70%.
Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp345 miliar dengan 441 juta saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp28,5 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp113,1 miliar dan aksi beli Rp84,6 miliar. Tercatat 81 saham menguat, 67 saham melemah dan 57 saham stagnan.
Beberapa saham-saham yang menguat di antaranya PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) naik Rp75 menjadi Rp68.075, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menguat Rp50 menjadi Rp7.950 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) bertambah Rp45 menjadi Rp4.110.
Saham-saham yang melemah di antaranya PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) melemah Rp800 menjadi Rp94.500, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) turun Rp135 menjadi Rp3.360 dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menyusut Rp125 menjadi Rp7.100.
Tercatat pada pada perdagangan kemarin IHSG berakhir anjlok 35,88 poin atau 0,73% ke level 4.878,86 di tengah kejatuhan mayoritas bursa utama Asia. Kini dilansir Reuters, Selasa (26/4/2016) bursa Asia terlihat defensif saat harga minyak mulai membaik dan investor masih menanti pertemuan The Fed dan Bank Of Japan (BOJ).
Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang mengalami penurunan 0,1%, sedangkan bursa Jepang tergelincir 114,22 poin atau 0,65% ke level 17.325,08. Sementara bursa saham AS juga melemah ketika indeks S&P 500 turun 0,18 persen menjadi 2,088, setelah sempat menyentuh level tertinggi tengah pekan lalu.
Adapun saham utama Asia bergerak mixed saat bursa Jepang melemah, indeks Shanghai justru menguat dengan kenaikan 1,77 poin atau 0,06% ke level 2.948,44. Sedangkan indeks Hang Seng menyusut 133,87 poin atau 0,63% ke posisi 21.170,57 diikuti pelemahan indeks Straits Times yang turun 12,52 poin atau 0,43% ke level 2.887,76.
Faktanya pasar melihat ada kemungkinan terkait kenaikan suku bunga jelang pertemuan The Fed dan BOJ pekan ini. Pejabat Federal Reserve sendiri telah berulang kali menekankan bahwa kenaikan akan terjadi pada Juni, mendatang.
"Pembuat kebijakan bahkan dovish seperti Rosengren (Presiden Boston Fed, Eric) mengatakan ekspektasi pasar terlalu rendah. Sehingga sulit membayangkan Fed saat ini terlalu rendah, jadi mungkin mereka akan mencoba mendorong pasar ke level yang lebih tinggi. Terkait keseimbangan, kami kemungkinan mempunyai kejutan hawkish daripada kejutan dovish," terang Strategi Nomura Securities, Tomoaki Shishido.
Sementara itu sektor saham dalam negeri bergerak mayoritas berada pada tren negatif. Sektor dengan pelemahan terdalam yakni sektor keuangan yang anjlok 1,87% dan diikuti kejatuhan sektor aneka industri sebesar 1,70%.
Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp345 miliar dengan 441 juta saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp28,5 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp113,1 miliar dan aksi beli Rp84,6 miliar. Tercatat 81 saham menguat, 67 saham melemah dan 57 saham stagnan.
Beberapa saham-saham yang menguat di antaranya PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) naik Rp75 menjadi Rp68.075, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menguat Rp50 menjadi Rp7.950 dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) bertambah Rp45 menjadi Rp4.110.
Saham-saham yang melemah di antaranya PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) melemah Rp800 menjadi Rp94.500, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) turun Rp135 menjadi Rp3.360 dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menyusut Rp125 menjadi Rp7.100.
(akr)
Lihat Juga :