Rupiah Dibuka Loyo, USD Tak Berdaya Lawan Yen
Selasa, 26 April 2016 - 10:28 WIB
Rupiah Dibuka Loyo, USD Tak Berdaya Lawan Yen
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini dibuka masih loyo dan tidak beranjak di kisaran level Rp13.200/USD. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi ketika USD tergelincir terhadap beberapa mata uang utama lainnya.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka menguat pagi ini pada level Rp13.215/USD. Posisi ini tercatat lebih baik dari posisi awal pekan kemarin yang berada di level Rp13.235/USD.
Sementara posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance, di sesi pembukaan hari ini menunjukkan tetap melemah di level Rp13.218/USD dan pada pukul 10.00 WIB bergerak ke posisi Rp13.225/USD. Kondisi ini menunjukkan rupiah masih tertekan dibandingkan dari penutupan sebelumnya di posisi Rp13.207/USD.
Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pagi ada pada level Rp13.227/USD. Posisi ini tidak lebih baik, apabila melihat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.209/USD.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah juga masih sulit menguat pada level Rp13.210/USD pagi ini dengan kisaran harian Rp13.189-Rp13.225/USD. Posisi ini menunjukkan rupiah masih tertekan dibandingkan penutupan awal pekan kemarin Rp13.199/USD.
Dilansir Reuters, Selasa (26/4/2016) pada pasar mata uang, USD tercatat melemah terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Indeks USD sejalan greenback terhadap enam mata uang utama mengalami penurunan 0,2% menjadi 94.682.
USD juga tergelincir melawan yen ke level 111.06 ketika mata uang Jepang sempat menyentuh posisi tertinggi dalam tiga pekan yakni 111.90 awal pekan kemarin. Euro sendiri tercatat mendatar terhadap USD pada level 1.1268. Spekulasi yang beredar menerangkan yen akan terguncang di tengah ketidakpastian mengenai apakah Bank Of Japan (BOJ) akan benar-benar memberikan stimulus.
The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) juga akan mengadakan pertemuan dua hari, sebelum mengambil kebijakan baru. Analis berharap Fed tidak secara tiba-tiba menaikkan suku bunga acuan (Fed rate) saat pasar masih memantau kondisi ekonomi global yang belum stabil. Ekonom memperkirakan Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada Juni, mendatang.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka menguat pagi ini pada level Rp13.215/USD. Posisi ini tercatat lebih baik dari posisi awal pekan kemarin yang berada di level Rp13.235/USD.
Sementara posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance, di sesi pembukaan hari ini menunjukkan tetap melemah di level Rp13.218/USD dan pada pukul 10.00 WIB bergerak ke posisi Rp13.225/USD. Kondisi ini menunjukkan rupiah masih tertekan dibandingkan dari penutupan sebelumnya di posisi Rp13.207/USD.
Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pagi ada pada level Rp13.227/USD. Posisi ini tidak lebih baik, apabila melihat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.209/USD.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah juga masih sulit menguat pada level Rp13.210/USD pagi ini dengan kisaran harian Rp13.189-Rp13.225/USD. Posisi ini menunjukkan rupiah masih tertekan dibandingkan penutupan awal pekan kemarin Rp13.199/USD.
Dilansir Reuters, Selasa (26/4/2016) pada pasar mata uang, USD tercatat melemah terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Indeks USD sejalan greenback terhadap enam mata uang utama mengalami penurunan 0,2% menjadi 94.682.
USD juga tergelincir melawan yen ke level 111.06 ketika mata uang Jepang sempat menyentuh posisi tertinggi dalam tiga pekan yakni 111.90 awal pekan kemarin. Euro sendiri tercatat mendatar terhadap USD pada level 1.1268. Spekulasi yang beredar menerangkan yen akan terguncang di tengah ketidakpastian mengenai apakah Bank Of Japan (BOJ) akan benar-benar memberikan stimulus.
The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) juga akan mengadakan pertemuan dua hari, sebelum mengambil kebijakan baru. Analis berharap Fed tidak secara tiba-tiba menaikkan suku bunga acuan (Fed rate) saat pasar masih memantau kondisi ekonomi global yang belum stabil. Ekonom memperkirakan Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada Juni, mendatang.
(akr)