RUU Migas Harus Utamakan BUMN Migas

Selasa, 26 April 2016 - 15:58 WIB
RUU Migas Harus Utamakan...
RUU Migas Harus Utamakan BUMN Migas
A A A
JAKARTA - Revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas) harus memuat ketentuan tegas perihal kontrak bagi hasil (Production Contract Sharing/PCS). Bila kontrak bagi hasil perusahaan asing selesai, otomatis harus diberikan kepada perusahaan migas milik negara.

(Baca: Revisi UU Migas Harus Wujudkan Pertamina Sebagai NOC)

"Untuk kontrak yang habis, by default dia langsung ke BUMN, katakanlah sekarang Pertamina," kata Chairman Indonesia Counterpart for Energy and Environmental Solutions (ICEES), Herman Darnel di Jakarta, Selasa, (25/4/2016).

Pemerintah, kata dia, bisa langsung mengambil alih asetnya karena membayar cost recovery kepada kontraktor, sehingga saat kontrak berakhir, maka aset menjadi milik pemerintah Indonesia.

"Kontrak migas existing production sharing, itu kalau habis sebetulnya itu milik negara. Karena kita bayar cost recovery-nya ke kontraktor. Menurut saya, di aturan yang akan datang, asetnya diambil dan by default pemerintah menyerahkan aset itu ke BUMN," ujarnya.

By default, lanjut Herman, artinya tidak ada lagi negosiasi atau pembicaraan, karena aset itu sudah menjadi milik Pemerintah Indonesia. Dan pemerintah harus memprioritaskan kepada BUMN, misalnya Pertamina untuk mengelolanya.

Jika Pertamina atau BUMN tidak mau, pemerintah baru membuka opsi kepada perusahaan migas swasta nasional. Dan jika pihak swasta tidak mau, baru bisa diberikan ke perusahaan asing.

"Dan diteruskannya bukan lagi production sharing, tapi pakai contract service, karena investasinya sudah ada. Dia tinggal melanjutkan saja," ujar Herman.

Selain itu, revisi juga harus memberikan peluang yang lebih besar kepada perusahaan migas milik negara dan swasta nasional, terutama di blok-blok migas yang tidak sulit. Terlebih, saat ini mayoritas perusahaan asing global menguasai sektor migas.

Saat ini aset migas di Indonesia hanya 20% dikuasai perusahaan nasional, baik Pertamina, Medco, dan lain-lain. Dan 80% dikuasai perusahaan migas asing.

"Ini (perusahaan migas nasional) kita perbesar. Ke depan, kita perlu membuat semacam aturan insentif untuk orang lokal menjadi kontraktor, ada semacam kemudahan," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Petani Mendapat Sosialisasi...
Petani Mendapat Sosialisasi Keamanan Seiring Gas JTB Mulai Dialirkan
Hiswana Migas Dukung...
Hiswana Migas Dukung Penuh Pertamina untuk Keberlangsungan Hilir Migas
Pertamina Jaga Produksi...
Pertamina Jaga Produksi Hulu Migas demi Keberlangsungan Energi
Pertamina EP Jatibarang...
Pertamina EP Jatibarang Field Terapkan K3 Produksi Migas Berkelanjutan
10 Produsen Migas Terbesar...
10 Produsen Migas Terbesar yang Berada di Indonesia
Pertamina Kembali Temukan...
Pertamina Kembali Temukan Sumberdaya Migas Baru
Berita Terkini
Indonesia Didorong Kuasai...
Indonesia Didorong Kuasai Teknologi dan Inovasi Perkuat Industrialisasi Hijau
50 menit yang lalu
Unilever Indonesia Bukukan...
Unilever Indonesia Bukukan Laba Bersih Rp2,1 Triliun di Semester I 2026
59 menit yang lalu
Ada Kabar Baik dari...
Ada Kabar Baik dari AS-Iran, Harga Minyak Dunia Rontok 1%
1 jam yang lalu
Perkuat Operasional...
Perkuat Operasional Rendah Karbon, Danone Indonesia Operasikan PLTS di 11 Pabrik
1 jam yang lalu
Tingkatkan Produktivitas...
Tingkatkan Produktivitas Petani, Mahindra-RMA Indonesia Luncurkan Mahindra OJA 3140
1 jam yang lalu
BBT Perkuat Ekosistem...
BBT Perkuat Ekosistem Industri Batam lewat Ekspansi Fiber dan 5G
2 jam yang lalu
Infografis
5 Bank BUMN Diguyur...
5 Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Segini Rincian Porsinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved