Enggan Kecolongan Lagi, Mendag Atur Strategi Atasi Harga Daging
Jum'at, 17 Juni 2016 - 11:49 WIB
Enggan Kecolongan Lagi, Mendag Atur Strategi Atasi Harga Daging
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui, langkah pemerintah untuk mengatasi lonjakan harga daging sapi saat ini sudah telat. Karena itu, Kemendag mulai mempersiapkan strategi jangka panjang agar ke depan tidak kecolongan lagi seperti sekarang ini.
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan melakukan importasi sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk kebutuhan di Ibu Kota. Saat ini, pemerintah sudah mulai mengimpor sapi dari NTT, namun masih dalam jumlah terbatas.
"Kalau lihat Pulau Timor, masyarakat di sana sudah berbudaya ternak sapi dan berbudaya tanam jagung. Salah satu perubahan, kita sudah mulai impor sapi dari NTT ke Jabodetabek," katanya saat berbincang dengan media di kantornya, Kamis (16/6/2016) malam.
Menurutnya, terbatasnya suplai sapi dari NTT ke Jabodetabek lantaran di wilayah tersebut sangat kering dan kekurangan pasokan air. Sebab, tidak mungkin membesarkan sapi dengan pasokan air yang terbatas.
Karena itu, rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun tujuh waduk di NTT menjadi keputusan yang sangat tepat. Sehingga, perlahan Indonesia dapat lepas dari jeratan impor sapi.
"Visi Presiden bangun tujuh waduk itu revolusioner sekali. Industri sapi bisa berkembang dan tanam jagung bisa berkembang. Itu jadi sentra produksi yang sangat signifikan dan mengurangi impor sapi yang signifikan," imbuh dia.
Sementara, untuk wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, sektor sapi sudah bukan lagi dikategorikan sebagai usaha peternakan melainkan industri. Pasalnya, tingkat urbanisasi di wilayah tersebut sangat tinggi.
"Khusus Jabodetabek dan Jabar urbanisasinya sudah tinggi sekali. Sektor sapi sudah bukan peternakan, tapi industri. Yang namanya feedlot itu bukan pertanian lagi, tapi industri," tuturnya.
Sehingga, impor sapi bakalan sama saja dengan mengimpor bahan baku layaknya industri lain. Jika NTT bisa memasok sapi untuk wilayah tersebut, maka Indonesia perlahan bisa lepas dari jeratan impor sapi.
"Karena, di luar Jabar dan Jabodetabek, urbanisasi tidak terlalu tinggi dan bisa dibilang swasembada. Mengonsumsi apa yang mereka tumbuhkan sendiri," pungkas Lembong.
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah dengan melakukan importasi sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk kebutuhan di Ibu Kota. Saat ini, pemerintah sudah mulai mengimpor sapi dari NTT, namun masih dalam jumlah terbatas.
"Kalau lihat Pulau Timor, masyarakat di sana sudah berbudaya ternak sapi dan berbudaya tanam jagung. Salah satu perubahan, kita sudah mulai impor sapi dari NTT ke Jabodetabek," katanya saat berbincang dengan media di kantornya, Kamis (16/6/2016) malam.
Menurutnya, terbatasnya suplai sapi dari NTT ke Jabodetabek lantaran di wilayah tersebut sangat kering dan kekurangan pasokan air. Sebab, tidak mungkin membesarkan sapi dengan pasokan air yang terbatas.
Karena itu, rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun tujuh waduk di NTT menjadi keputusan yang sangat tepat. Sehingga, perlahan Indonesia dapat lepas dari jeratan impor sapi.
"Visi Presiden bangun tujuh waduk itu revolusioner sekali. Industri sapi bisa berkembang dan tanam jagung bisa berkembang. Itu jadi sentra produksi yang sangat signifikan dan mengurangi impor sapi yang signifikan," imbuh dia.
Sementara, untuk wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, sektor sapi sudah bukan lagi dikategorikan sebagai usaha peternakan melainkan industri. Pasalnya, tingkat urbanisasi di wilayah tersebut sangat tinggi.
"Khusus Jabodetabek dan Jabar urbanisasinya sudah tinggi sekali. Sektor sapi sudah bukan peternakan, tapi industri. Yang namanya feedlot itu bukan pertanian lagi, tapi industri," tuturnya.
Sehingga, impor sapi bakalan sama saja dengan mengimpor bahan baku layaknya industri lain. Jika NTT bisa memasok sapi untuk wilayah tersebut, maka Indonesia perlahan bisa lepas dari jeratan impor sapi.
"Karena, di luar Jabar dan Jabodetabek, urbanisasi tidak terlalu tinggi dan bisa dibilang swasembada. Mengonsumsi apa yang mereka tumbuhkan sendiri," pungkas Lembong.
(izz)
Lihat Juga :