Penguatan Rupiah Diprediksi Masih Berlanjut
Senin, 20 Juni 2016 - 08:05 WIB
Penguatan Rupiah Diprediksi Masih Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah terlihat mampu berbalik arah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) untuk menutup akhir pekan kemarin. Menurut Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada secara jangka menengah rupiah cenderung bergerak sideways di range Rp13.200-Rp13.400/USD.
"Penguatan rupiah secara jangka pendek ini diharapkan masih dapat berlanjut dengan memanfaatkan pelemahan laju USD dan jelang dirilisnya data-data penting AS seperti Retail Sales dan Jobless claims," ujarnya di Jakarta, Senin (20/6/2016).
Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.333/USD serta resisten Rp13.260/USD, meski tetap cermati sentimen yang ada. Sementara, meredanya kekhawatiran pelaku pasar mengenai referendum Brexit -British Exit-, membuat laju EUR mampu menguat dan berimbas pada laju USD Index yang terlihat tertekan.
Pelemahan ini berdampak pada penguatan hampir di seluruh mata uang dunia baik dari yen, rupiah, euro, yuan, bahkan GBP. Sementara itu, rilis Bank Indonesia (BI) yang melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
"Melalui relaksasi ketentuan Loan to Value Ratio (LTV) dan Financing to Value Ratio (FTV) kredit/pembiayaan properti untuk Rumah Tapak, Rumah Susun, dan Ruko/Rukan serta estimasi terhadap konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat, sejalan dengan peningkatan penjualan eceran menjelang Hari Raya Idul Fitri turut menambah sentimen positif bagi rupiah," pungkasnya.
"Penguatan rupiah secara jangka pendek ini diharapkan masih dapat berlanjut dengan memanfaatkan pelemahan laju USD dan jelang dirilisnya data-data penting AS seperti Retail Sales dan Jobless claims," ujarnya di Jakarta, Senin (20/6/2016).
Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.333/USD serta resisten Rp13.260/USD, meski tetap cermati sentimen yang ada. Sementara, meredanya kekhawatiran pelaku pasar mengenai referendum Brexit -British Exit-, membuat laju EUR mampu menguat dan berimbas pada laju USD Index yang terlihat tertekan.
Pelemahan ini berdampak pada penguatan hampir di seluruh mata uang dunia baik dari yen, rupiah, euro, yuan, bahkan GBP. Sementara itu, rilis Bank Indonesia (BI) yang melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
"Melalui relaksasi ketentuan Loan to Value Ratio (LTV) dan Financing to Value Ratio (FTV) kredit/pembiayaan properti untuk Rumah Tapak, Rumah Susun, dan Ruko/Rukan serta estimasi terhadap konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat, sejalan dengan peningkatan penjualan eceran menjelang Hari Raya Idul Fitri turut menambah sentimen positif bagi rupiah," pungkasnya.
(akr)