Rupiah Ditutup Terdepak ke Level Rp13.210/USD

Kamis, 30 Juni 2016 - 16:55 WIB
Rupiah Ditutup Terdepak...
Rupiah Ditutup Terdepak ke Level Rp13.210/USD
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berakhir melemah kembali ke level Rp13.200/USD, pada penutupan perdagangan Kamis (30/6/2016). Rupiah loyo 53 poin atau 0,40% ke level Rp13.210/USD.

Sebelumnya pada pembukaan Kamis pagi, rupiah sudah terpantau melemah 33 poin atau 0,25% ke posisi Rp13.190/USD. Tuah pengesahan UU Tax Amnesty tidak berlanjut pada hari ini. Saat ini, pasar sedang menunggu data inflasi yang akan dirilis pemerintah pada besok Jumat.

Kurs rupiah menurut Yahoo Finance, pada penutupan Kamis ini, terdepresiasi 60 poin atau 0,46% menjadi Rp13.215/USD. Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan berkisar di level Rp13.155-Rp13.215/USD.

Data Sindonews yang bersumber dari Limas, pada penutupan hari ini juga loyo ke level Rp13.220/USD. Dimana pada jeda siang, mata uang Garuda sempat menguat ke level Rp13.180/USD setelah pagi tadi dibuka melemah di Rp13.205/USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah hari Kamis ini melemah Rp13.180/USD, terdepresiasi 0,11% atau 14 poin dari posisi Rp13.166 per dolar AS pada Rabu (29/6/2016).

Sementara itu, mata uang USD mulai mengambil nafas terhadap mata uang Asia pada Kamis ini. Melansir Reuters, Kamis (30/6/2016), indeks USD terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik tipis 0,1% menjadi 95,836. Dolar mengambil manfaat dari gelombang besar risk aversion dari pasar global setelah suara Brexit memudar.

Sementara itu poundsterling turun 0,2% pada USD1,3395, jauh di atas nadir pada Senin kemarin yaitu USD1,3122. “Sterling telah jatuh dan masih banyak ketidakpastian,” ujar Sue Trinh, ahli strategi mata uang senior di RBC Capital Markets di Hong Kong, kepada Reuters, Kamis (30/6/2016).

Namun Euro ditutup hampir datar terhadap poundsterling yaitu di level 82,85 pence (sen). Menurun dari Senin kemarin, yaitu 83,80 pence, yang merupakan puncak paling tinggi selama dua tahun belakangan.

Euro juga masih di bawah tekanan, turun 0,2% ke level USD1,1101. Sementara itu dolar AS stabil terhadap yen yaitu di posisi ¥ 102,80. Yen cenderung meningkat tajam pada saat risiko global, sehingga menciptakan sakit kepala bagi pemerintah Jepang dan mengancam mendorong negara itu kembali ke dalam resesi.

Dolar Australia jatuh 0,3% menjadi USD0,7433, tapi masih baik dari posisi terendah pasca-Brexit. Hasil suara Inggris pada Jumat mendorongnya pada level rendah yaitu USD0,7305 dari sebelum pengumuman Brexit pada USD0,7650.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
43 menit yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
1 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
1 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
3 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
4 jam yang lalu
Bendungan Sidan dan...
Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan, Brantas Abipraya Perkuat Ketahanan Air dan Pangan
14 jam yang lalu
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved