DBS: Brexit Langkah Mundur Inggris

Jum'at, 15 Juli 2016 - 13:31 WIB
DBS: Brexit Langkah...
DBS: Brexit Langkah Mundur Inggris
A A A
JAKARTA - Rakyat Inggris Raya akhirnya memutuskan untuk berpisah dari Uni Eropa (Brexit) dalam referendum yang digelar pada 23 Juni lalu. Sebanyak 51,9% penduduk memilih keluar (leave), dan 48,1% memutuskan untuk tetap bergabung (remain) dengan Uni Eropa.

Inggris Raya merupakan negara dengan tingkat perekonomian terbesar di Uni Eropa. Tak pelak, keputusan untuk berpisah langsung direspons negatif pasar.

Pasca keputusan referendum, mata uang poundsterling sempat anjlok 12,5% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Standard & Poor’s pun akhirnya menurunkan peringkat utang Inggris dari level tertingginya.

"Kami rasa skenario terburuk dari keputusan ini, nilai poundsterling akan turun 10%-20%. Ditambah lagi dengan ketidakpastian akibat pengunduran diri Perdana Menteri Inggris David Cameron," ujar ekonom DBS Group Research Philip Wee dalam rilisnya, Jumat (15/7/2016).

Chief Economist DBS Group Research David Carbon menambahkan, keputusan untuk keluar dari Uni Eropa merupakan kemunduran besar bagi Inggris Raya. Menurutnya, mereka seperti sedang menembak kakinya sendiri dalam menghadapi era perdagangan bebas dan globalisasi yang membuka sekat-sekat perbatasan negaranya.

Bagi kelompok muda, perdagangan bebas merupakan peluang untuk memperoleh pekerjaan serta pendapatan yang melampaui orang-orang tua mereka. Itu sebabnya, anak-anak muda Inggris lebih memilih untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa, lantaran dengan perdagangan, baik barang dan jasa yang semakin terbuka, mereka bebas bekerja di mana saja.

Namun, bagi generasi tua yang kurang memiliki skill, era perdagangan bebas dapat membatasi ruang mereka untuk memperoleh pekerjaan. Mereka kalah bersaing dengan pencari kerja yang lebih muda yang familiar dengan teknologi terbaru.

"Untuk itu, pelatihan kepada mereka yang 'kalah' untuk menghadapi sistem ekonomi dan teknologi baru untuk mengatasi persoalan ini," tandas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
37 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
45 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
1 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
3 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved