Ekonomi Melambat, Proyek Listrik 35.000 MW Sulit Tercapai

Minggu, 07 Agustus 2016 - 23:17 WIB
Ekonomi Melambat, Proyek...
Ekonomi Melambat, Proyek Listrik 35.000 MW Sulit Tercapai
A A A
JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha mengatakan, pemerintah pada saat membuat list program pembangunan listrik 35 ribu megawatt (MW), asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia 6%-7%.

Namun, perlambatan ekonomi yang membuat pertumbuhan ekonomi Tanah Air tertekan, maka proyek listrik 35.000 MW dapat maksimal. Apalagi, pada awal pemerintah mengasumsikan bahwa dalam setahun bisa membangun sekitar 7 ribu MW dan akan tercapai lima tahun ke depan yakni 35 ribu MW.

"Kita mau jujur saja, forecast 35 ribu MW itu mempunyai asumsi pertumbuhan ekonomi 6%-7%. Kedua, kebutuhan listrik itu ekskalasinya sekitar 7.000 MW per tahun. Jadi kalau lima tahun kita anggap 35 ribu MW, itu kalau semua asumsi masuk. Kenyataannya ada perlambatan ekonomi, sehingga asumsi-asumsi tadi bisa saja bergeser," ujarnya di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (7/8/2016).

Seharusnya, lanjut Satya, proyek listrik 35 ribu MW tidak mungkin dapat diselesaikan dalam lima tahun ini jika dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini.

Selain itu, jika dilihat dari segi realitas, pembangunan proyek ini mayoritas diambil swasta atau Independent Power Producer (IPP). Sedangkan PLN hanya mengerjakan 10 ribu MW.

"Ini berarti tergantung terhadap investasi dan pelaku bisnis. Walaupun di PLN juga ada sekitar 10 ribu MW dan sisanya diserahkan ke swasta," kata dia.

Belum lagi langkah-langkah kementerian yang mencanangkan soal kebijakan lingkungan hidup yang nyatanya agak bertetangan dengan program pembangunan listrik. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mengeluarkan kebijakan bahwa emisi atau gas buang dalam pembangunannya yakni 60%. Akhirnya pada RUPTL yang baru, pemerintah tidak bisa lagi promosikan 35 ribu MW murni.

"Jadi, 50% kita buat clean energy termasuk gas. Ditambah di situ ada hydro solar dan panas bumi. Dengan perubahan seperti ini saya yakin IPP yang kita harapkan belum segesit ketika kita forecast itu masih PLTU semua. PLN jelas tidak mau bayar mahal dari harga patokan, meski dia harus nurut pemerintah. Makanya harus ada buffer, dan akhirnya muncul lah dana ketahanan energi," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Perpanjang...
Pemerintah Perpanjang Pemberian Diskon Tagihan Listrik
Pemerintah Tahan Kenaikan...
Pemerintah Tahan Kenaikan Tarif Listrik untuk Menjaga Daya Beli Masyarakat
Kebutuhan Investasi...
Kebutuhan Investasi Ketenagalistrikan Nasional
Subsidi Listrik Diperpanjang...
Subsidi Listrik Diperpanjang Hingga Maret 2021
Schneider Electric Kampanyekan...
Schneider Electric Kampanyekan Rumah Nyaman, Listrik Aman
MCB RXE, Si Kecil yang...
MCB RXE, Si Kecil yang Bikin Rumah Aman dari Kebakaran
Berita Terkini
Elnusa Petrofin Akselerasi...
Elnusa Petrofin Akselerasi Transformasi Digital Jasa Logistik Energi
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Kawal B50, Pakar Ekonomi: Solusi Cerdas Tekan Impor Minyak
1 jam yang lalu
HUT ke-54, Petrokimia...
HUT ke-54, Petrokimia Gresik Fokus Transformasi dan Keberlanjutan
2 jam yang lalu
Pemerintah Bakal Bangun...
Pemerintah Bakal Bangun Pusat Finansial di Bali, PP Ditargetkan Rampung Agustus
2 jam yang lalu
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
5 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
7 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved