Rupiah Awal Pekan Dibuka Menguat Tajam
Senin, 05 September 2016 - 10:05 WIB
Rupiah Awal Pekan Dibuka Menguat Tajam
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan awal pekan ini dibuka menguat dari penutupan sebelumnya. Penguatan rupiah pagi ini terjadi saat USD cukup menguat terhadap yen.
Menurut data Yahoo Finance, rupiah dibuka berada di level Rp13.095/USD dengan kisaran harian Rp13.095-Rp13.095/USD. Posisi rupiah terlihat jauh menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.250/USD.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka di level Rp13.197/USD. Posisi ini tercatat samkin menguat dari posisi sebelumnya di level Rp13.261/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg pada pembukaan hari ini berada pada level Rp13.223/USD atau menguat jika dibanding penutupan sebelumnya dan semakin menguat pada pukul 10.59 WIB di posisi Rp13.185/USD. Pergerakan mata uang Garuda hari ini berada pada kisaran harian Rp13.169-Rp13.225/USD.
Menurut data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah berada di posisi Rp13.145/USD atau semakin menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.233/USD.
Dilansir Reuters, Senin (5/9/2016) USD dipegang teguh di perdagangan Asia pada Senin pagi setelah angka pertumbuhan pekerjaan AS mengecewakan untuk Agustus tidak sedikit untuk mengubah persepsi investor bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Nonfarm payrolls naik 151.000 pekerj bulan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat kemarin, atau di bawah perkiraan ekonomi sebesar 180.000 pekerja. Upah per jam rata-rata, ukuran utama tekanan inflasi naik 0,1% juga jatuh jauh dari harapan pasar.
Namun, dengan kenaikan gaji rata-rata selama tiga bulan terakhir dengan mudah topping 200.000, investor menyimpulkan bahwa data tidak akan menjadi pukulan serius bagi rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Indeks USD terhadap enam mata uang utama berhasil tetap bertahan, cepat memantul kembali dari posisi rendah dalam sepekan terakhir di level 95,189 setelah data payroll. "Reaksi pasar adalah dimengerti. Sementara tokoh utama lemah, data tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September," kata Masashi Murata, ahli strategi mata uang senior di Brown Brothers Harriman.
Terhadap yen, dolar melompat kembali ke level 103,74 setelah jatuh ke posisi 102,80. Euro melayang di level 1,1155, tidak jauh dari posisi terendah tiga pekan yang berada di posisi 1,1123.
Menurut data Yahoo Finance, rupiah dibuka berada di level Rp13.095/USD dengan kisaran harian Rp13.095-Rp13.095/USD. Posisi rupiah terlihat jauh menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.250/USD.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dibuka di level Rp13.197/USD. Posisi ini tercatat samkin menguat dari posisi sebelumnya di level Rp13.261/USD.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg pada pembukaan hari ini berada pada level Rp13.223/USD atau menguat jika dibanding penutupan sebelumnya dan semakin menguat pada pukul 10.59 WIB di posisi Rp13.185/USD. Pergerakan mata uang Garuda hari ini berada pada kisaran harian Rp13.169-Rp13.225/USD.
Menurut data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah berada di posisi Rp13.145/USD atau semakin menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.233/USD.
Dilansir Reuters, Senin (5/9/2016) USD dipegang teguh di perdagangan Asia pada Senin pagi setelah angka pertumbuhan pekerjaan AS mengecewakan untuk Agustus tidak sedikit untuk mengubah persepsi investor bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Nonfarm payrolls naik 151.000 pekerj bulan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat kemarin, atau di bawah perkiraan ekonomi sebesar 180.000 pekerja. Upah per jam rata-rata, ukuran utama tekanan inflasi naik 0,1% juga jatuh jauh dari harapan pasar.
Namun, dengan kenaikan gaji rata-rata selama tiga bulan terakhir dengan mudah topping 200.000, investor menyimpulkan bahwa data tidak akan menjadi pukulan serius bagi rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Indeks USD terhadap enam mata uang utama berhasil tetap bertahan, cepat memantul kembali dari posisi rendah dalam sepekan terakhir di level 95,189 setelah data payroll. "Reaksi pasar adalah dimengerti. Sementara tokoh utama lemah, data tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September," kata Masashi Murata, ahli strategi mata uang senior di Brown Brothers Harriman.
Terhadap yen, dolar melompat kembali ke level 103,74 setelah jatuh ke posisi 102,80. Euro melayang di level 1,1155, tidak jauh dari posisi terendah tiga pekan yang berada di posisi 1,1123.
(izz)