Harga Minyak Dunia Naik 1,5% Imbas Rencana Pembekuan Produksi
Kamis, 08 September 2016 - 07:47 WIB
Harga Minyak Dunia Naik 1,5% Imbas Rencana Pembekuan Produksi
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak duni naik 1,5% karena pasar tengah fokus pada kemungkinan bahwa produsen top dunia akan setuju pada pembekuan produksi. Perdagangan goyang karena beberapa pedagang mengamati data persediaan minyak AS lantaran pada akhir Rabu dan Kamis pagi untuk arah yang lebih jelas.
Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/9/2016), harga mibyak brent naik 72 sen menjadi USD47,98 per barel setelah diperdagangkan antara USD46,97 dan USD48,10. Sementara, harga minyak AS diperdagangkan antara USD44,55 dan USD45,58 sebelum akhirnya 67 sen lebih tinggi menjadi USD45,50. Hal ini menjadi kenaikan ketiga secra berturut-turut.
Harga minyak mencapai posisi tinggi dalam satu pekan pada Senin setelah Rusia dan Arab Saudi sepakat untuk bekerja sama dalam menstabilkan pasar minyak. Harga minyak telah jatuh karena ketidakpastian atas kesepakatan tersebut, terutama setelah pertemuan di Doha pada April di antara produsen terbesar di dunia untuk membahas produksi minyak namun berakhir dengan kegagalan.
"Pasar terus menjadi reaktif terhadap klaim kerja sama OPEC dan Rusia, memberi mereka manfaat yang luar biasa dari keraguan pada pembicaraan mereka dari potensi koordinasi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen non-OPEC seperti Rusia diperkirakan akan membahas pembekuan produksi pada pembicaraan informal yang akan digelar di Aljazair pada 26-28 September tahun ini.
"Saya pikir kita akan menjadi headline didorong untuk sementara waktu. Secara umum, saya pikir kita akan melihat harga yang lebih rendah akan maju. Pertemuan mendatang tidak akan berbuat banyak. Jika OPEC membeku pada tingkat ini, ini adalah rekor tingkat," kata Tariq Zahir, analis di Tyche Capital Advisors.
Iran telah mengatakan akan bekerja sama pada pembekuan produksi, hanya jika sesama eksportir diakui haknya untuk meningkatkan pangsa pasar untuk mencapai tingkat sebelum pengenaan sanksi terkait nuklir, yang kini telah diangkat.
"Iran masih berbicara tentang pra-sanksi dan bahkan dengan membekukan produksi, Anda masih pada tingkat yang tinggi," kata Zahir.
Persediaan minyak mentah AS kemungkinan tumbuh sekitar 200.000 barel pekan lalu setelah naik selama dua pekN berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan.
Beberapa analis memperkirakan penurunan persediaan minyak mentah yang terkait dengan evakuasi fasilitas di Teluk Meksiko akibat aktivitas badai pekan lalu.
American Petroleum Institute merilis data minyak mingguan pada Rabu pujul 16:30 EDT, sementara pemerintah merilis laporannya pada Rabu pukul 11:00, kedua data tersebut tertundaliburan Hari Buruh Senin kemarin.
Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/9/2016), harga mibyak brent naik 72 sen menjadi USD47,98 per barel setelah diperdagangkan antara USD46,97 dan USD48,10. Sementara, harga minyak AS diperdagangkan antara USD44,55 dan USD45,58 sebelum akhirnya 67 sen lebih tinggi menjadi USD45,50. Hal ini menjadi kenaikan ketiga secra berturut-turut.
Harga minyak mencapai posisi tinggi dalam satu pekan pada Senin setelah Rusia dan Arab Saudi sepakat untuk bekerja sama dalam menstabilkan pasar minyak. Harga minyak telah jatuh karena ketidakpastian atas kesepakatan tersebut, terutama setelah pertemuan di Doha pada April di antara produsen terbesar di dunia untuk membahas produksi minyak namun berakhir dengan kegagalan.
"Pasar terus menjadi reaktif terhadap klaim kerja sama OPEC dan Rusia, memberi mereka manfaat yang luar biasa dari keraguan pada pembicaraan mereka dari potensi koordinasi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen non-OPEC seperti Rusia diperkirakan akan membahas pembekuan produksi pada pembicaraan informal yang akan digelar di Aljazair pada 26-28 September tahun ini.
"Saya pikir kita akan menjadi headline didorong untuk sementara waktu. Secara umum, saya pikir kita akan melihat harga yang lebih rendah akan maju. Pertemuan mendatang tidak akan berbuat banyak. Jika OPEC membeku pada tingkat ini, ini adalah rekor tingkat," kata Tariq Zahir, analis di Tyche Capital Advisors.
Iran telah mengatakan akan bekerja sama pada pembekuan produksi, hanya jika sesama eksportir diakui haknya untuk meningkatkan pangsa pasar untuk mencapai tingkat sebelum pengenaan sanksi terkait nuklir, yang kini telah diangkat.
"Iran masih berbicara tentang pra-sanksi dan bahkan dengan membekukan produksi, Anda masih pada tingkat yang tinggi," kata Zahir.
Persediaan minyak mentah AS kemungkinan tumbuh sekitar 200.000 barel pekan lalu setelah naik selama dua pekN berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan.
Beberapa analis memperkirakan penurunan persediaan minyak mentah yang terkait dengan evakuasi fasilitas di Teluk Meksiko akibat aktivitas badai pekan lalu.
American Petroleum Institute merilis data minyak mingguan pada Rabu pujul 16:30 EDT, sementara pemerintah merilis laporannya pada Rabu pukul 11:00, kedua data tersebut tertundaliburan Hari Buruh Senin kemarin.
(izz)
Lihat Juga :