Dana Repatriasi Dinilai Tidak Mampu Dongkrak RAPBN 2017

Senin, 12 September 2016 - 22:40 WIB
Dana Repatriasi Dinilai...
Dana Repatriasi Dinilai Tidak Mampu Dongkrak RAPBN 2017
A A A
JAKARTA - Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai ada banyak faktor yang membuat Pemerintah dan DPE akhirnya sepakat memangkas asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2017 menjadi 5,1%. Salah satunya, kata Josua, pemasukan dana repatriasi yang digadang-gadang akan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi 2017 dinilai tidak berefek besar. Alias tetap membuat ekonomi tahun depan berjalan stagnan.

Kalkulasi Josua, meski hasil dari dana repatriasi akan terefleksi di tahun depan dan memberi ruang untuk penerimaan negara, namun tidak tampak apabila pengaruhnya dibawa ke pertumbuhan ekonomi 2017 secara tahun ke tahun (year on year/YoY).

Pembentukan Modal Total Bruto (PMTB) pun diperkirakan masih akan stagnan meski dana repatriasi dari tax amnesty sudah terefleksi pada tahun depan. "Jadi ekonomi kita kemungkinan juga akan stagnan. Itulah kenapa pemerintah menetapkan asumsi makro untuk target pertumbuhan ekonomi di angka 5,1 persen dalam RAPBN 2017," kata Josua kepada Sindonews, Jakarta, Senin (12/9/2016)

Selain itu, faktor pertumbuhan ekonomi global yang belum menunjukkan perbaikan masih menjadi faktor yang turut mempengaruhi ekonomi domestik ditengah juga melemahnya sektor rill.

"Sementara itu faktor lain yang mendorong pemerintah merevisi ke bawah target pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi masyarakat yang cenderung masih lemah. Meski sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan tapi masih terbatas," kata dia.

Hal lain, lanjutnya, tak boleh dilupakan juga potensi melebarnya defisit anggaran pada tahun depan yang berpotensi menghambat stimulus fiskal untuk dapat mendorong sektor riil ekonomi. Namun demikian, di tengah perlambatan ekonomi China serta dampak lanjutan dari Brexit, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% masih cukup baik, bahkan masih lebih tinggi dari beberapa negara di kawasan.

Indonesia dapat bertahan sebetulnya ditengah gejolak-gejolak tersebut dengan mempertahankan tigkat inflasi yang diperkirakan akan semakin terkendali dan suku bunga yang dalam tren menurun. "Pemerintah diharapkan dapat menjaga iklim investasi yang positif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat cenderung stabil," kata dia.

Namun demikian, hal berikutnya yang perlu diperhatikan yakni kondisi harga komoditas yang masih cukup lemah menunjukkan ekspor Indonesia belum akan membaik dalam jangka pendek ini. Di tengah tren perlambatan pertumbuhan ekonomi global, pelaku pasar dan industri mengharapkan pemerintah dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang countercyclical.

"Sehingga pertumbuhan ekonomi dapat stabil dan berkualitas dan lebih sustainable daripada pertumbuhan yang tinggi dan tidak berkualitas dan tidak berkesinambungan," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ramalan Jokowi: Ekonomi...
Ramalan Jokowi: Ekonomi RI Tahun 2022 Tumbuh 5,5%
Perry Warjiyo Lebih...
Perry Warjiyo Lebih Pede dari Pemerintah Soal Pertumbuhan Ekonomi RI di 2021
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Berita Terkini
Zero ODOL Dinilai Jadi...
Zero ODOL Dinilai Jadi Titik Awal Perkuat Keselamatan Transportasi
8 menit yang lalu
PFII Ditargetkan Beroperasi...
PFII Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini, Purbaya Bocorkan Penentuan Lokasi
19 menit yang lalu
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki...
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki Pengembangan Rantai Pasok Hidrogen Hijau RI-Singapura
58 menit yang lalu
93 Proyek Hidrogen Siap...
93 Proyek Hidrogen Siap Dikembangkan di Indonesia, Nilainya Tembus Rp32 Triliun
1 jam yang lalu
Bos DJP soal Libatkan...
Bos DJP soal Libatkan Babinsa Awasi Pajak: Tak Perlu Digoreng-goreng
1 jam yang lalu
Bittime: Pasar Tokenisasi...
Bittime: Pasar Tokenisasi Aset RI Diramal Sentuh USD88 Miliar di 2030
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara yang Paling...
10 Negara yang Paling Tidak Dikenal, dari Nauru hingga Tuvalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved