Kemenhub Cari Alternatif Skema Pendanaan LRT

Rabu, 21 September 2016 - 05:17 WIB
Kemenhub Cari Alternatif...
Kemenhub Cari Alternatif Skema Pendanaan LRT
A A A
JAKARTA - Pemerintah masih mengkaji skema pendanaan proyek Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan terintegrasi yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Depok serta Bekasi. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, dengan adanya berbagai alternatif skema pendanaan maka pemerintah bisa lebih menghemat anggaran.

"Artinya dengan begitu, anggaran bisa lebih diatur. Ini supaya kita bisa lebih mengatur lagi waktu yang lebih panjang. Mengapa? karena APBN itu harus punya ruang untuk Indonesia sentris di daerah-daerah," kata dia di Jakarta.

Seperti diketahui pemerintah melalui peraturan presiden telah menunjuk PT Adhi Karya untuk membangun proyek LRT Jabodebek dengan sistem klaim di penghujung tahun. Menurut Menhub selain penghematan, dengan skema alternatif skema pendanaan yang ada, maka arus kas juga bisa lebih panjang.

"Jadi cukup ada napas memberikan pendanaan untuk pembangunan APBN di luar Pulau Jawa," sambungnya.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Bappenas, PT Adhi Karya, PT Waskita Karya serta Sarana Multi Infrastruktur tengah membahas alternatif skema pendanaan pada Proyek LRT Jabodebek. Sejumlah skema pendanaan yang akan digunakan di antaranya Availibility Payment.

Skema tersebut memungkinkan adanya keterlibatan investor. Sekretaris Jenderal Kemenhub Sugihardjo mengatakan, pola pendanaan AP memungkinkan adanya penundaan pembayaran.

"Setelah proyek ini beroperasi, maka akan didistribusikan selama masa operasional. Artinya ada penundaan pembayaran dan disitu ada hitung-hitungan investasi margin. Pola ini bisa meringankan beban anggaran di APBN namun tetap ada share pemerintah," papar dia.

Meski begitu, dia menegaskan, pihaknya masih mengkaji skema yang ada di luar skema Availibity Payment. "Skema yang ke dua, kami dorong investasi murni swasta. Namun untuk investasi ini kami harus menawarkan dan itu berarti bahwa investasi tersebut harus menarik bagi investor," ucap Sugihardjo

Dia menambahkan bahwa skema AP akan melalui sistem beauty kontes atau melalui proses lelang. "Mereka yang bisa mengajukan proposal terbaik dari sisi kualitas maupun costnya," ucap dia.

Sistem lelang tersebut nantinya akan berujung dengan sistem konsesi. "Jadi semua dipertimbangkan, termasuk ketika sudah operasional, tarifnya itu, fungsi berdasarkan pada periode waktu. Kalau waktu perjanjian pendek pasti tarifnya tinggi. Kalau tarifnya rendah berarti waktu konsesinya diperpanjang," pungkas dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Uji Coba LRT Jabodebek...
Uji Coba LRT Jabodebek Dihentikan Sementara, Begini Penjelasan Kemenhub
Begini Cara Menghitung...
Begini Cara Menghitung Tarif LRT Jabodebek, Mulai dari Rp5.000
Pembangunan LRT Jabodebek...
Pembangunan LRT Jabodebek Sudah 75%, Beres Kapan?
LRT Jakarta Velodrome-Manggarai...
LRT Jakarta Velodrome-Manggarai Groundbreaking Paling Lambat Awal Oktober 2023
LRT Jakarta Gunakan...
LRT Jakarta Gunakan Sinar Ultraviolet untuk Cegah Covid-19
Pembubutan Roda LRT...
Pembubutan Roda LRT Jabodebek Belum Rampung, Kemenhub: Terjadi Juga di Athena dan Kolombia
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
1 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
1 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
2 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
2 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
3 jam yang lalu
Infografis
Shin Tae-yong Siapkan...
Shin Tae-yong Siapkan Skema Terbaik Bongkar Pertahanan Australia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved