Rupiah Diramal Masih Kesulitan Tinggalkan Level Rp13.000/USD
Jum'at, 21 Oktober 2016 - 08:26 WIB
Rupiah Diramal Masih Kesulitan Tinggalkan Level Rp13.000/USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini diramal masih sulit untuk dapat meninggalkan level Rp13.000/USD. Hal ini tak lepas dari keputusan tingkat suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menurunkan BI 7-day reverse repo rate sebesar 25 basis poin dari 5% menjadi 4,75%.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menuturkan, masih minimnya sentimen selain keputusan tingkat suku bunga dalam RDG BI membuat laju rupiah bergerak cenderung flat pada perdagangan kemarin.
"Pelaku pasar masih menahan aksinya, sehingga membuat pergerakan mata uang rupiah cenderung menguji level resisten Rp13.000/USD dan support Rp13.065/USD," katanya di Jakarta, Jumat (21/10/2016).
Dia menerangkan, pasca dirilisnya GDP kuartal III China di level 6,7% atau sesuai ekspektasi pasar tidak berdampak signifikan terhadap pergerakan pasar mata uang Asia. Adapun keadaan tersebut tergambarkan dari mixed-nya pergerakan USD terhadap mata uang dunia lainnya.
UK Unemployment Rate yang flat di level 4,9% membuat GBP bergerak melanjutkan pelemahan. Mata uang Peso Mexico menguat setelah debat pemilihan calon presiden AS. Sementara laju rupiah kemrin masih cenderung flat seiring aksi tunggu rilis BI 7-day reverse repo rate yang baru dirilis setelah penutupan pasar.
"Tidak hanya itu, datarnya laju rupiah kemrin juga terimbas sentimen berita perlambatan penyaluran kredit. Kredit tumbuh 6,5% per September 2016, lebih rendah dari pertumbuhan 6,8% Agustus 2016," tutupnya.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menuturkan, masih minimnya sentimen selain keputusan tingkat suku bunga dalam RDG BI membuat laju rupiah bergerak cenderung flat pada perdagangan kemarin.
"Pelaku pasar masih menahan aksinya, sehingga membuat pergerakan mata uang rupiah cenderung menguji level resisten Rp13.000/USD dan support Rp13.065/USD," katanya di Jakarta, Jumat (21/10/2016).
Dia menerangkan, pasca dirilisnya GDP kuartal III China di level 6,7% atau sesuai ekspektasi pasar tidak berdampak signifikan terhadap pergerakan pasar mata uang Asia. Adapun keadaan tersebut tergambarkan dari mixed-nya pergerakan USD terhadap mata uang dunia lainnya.
UK Unemployment Rate yang flat di level 4,9% membuat GBP bergerak melanjutkan pelemahan. Mata uang Peso Mexico menguat setelah debat pemilihan calon presiden AS. Sementara laju rupiah kemrin masih cenderung flat seiring aksi tunggu rilis BI 7-day reverse repo rate yang baru dirilis setelah penutupan pasar.
"Tidak hanya itu, datarnya laju rupiah kemrin juga terimbas sentimen berita perlambatan penyaluran kredit. Kredit tumbuh 6,5% per September 2016, lebih rendah dari pertumbuhan 6,8% Agustus 2016," tutupnya.
(izz)