Genjot Produktivitas Padi, Kementan Dorong Efisiensi Irigasi Pompa

Kamis, 27 Oktober 2016 - 09:59 WIB
Genjot Produktivitas...
Genjot Produktivitas Padi, Kementan Dorong Efisiensi Irigasi Pompa
A A A
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, efisien usaha tani ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya, biaya pengairan penggantian sumber energi pompa dari bahan bakar minyak menjadi listrik yang mampu menghemat biaya pengairan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Sekditjen PSP) Kementan Abdul Majid mengatakan, pihaknya membantu optimalisasi dan efisiensi pengairan pompa bagi petani yang memerlukan. Ini dilakukan untuk menekan biaya, sehingga nantinya petani mampu meningkatkan produktivitas padi.

"Silakan petani melalui dinasnya mengusulkan (efisiensi pengairan pompa) ke Kementan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Sindonews di Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Dicontohkannya, Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Subur Makmur yang terletak di Desa Klotok, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim) berhasil melakukan efisiensi pengairan pompa. Hasilnya, produktivitas padi di desa tersebut meningkat dari 2,5 ton menjadi 10-12 ton per hektare (ha) Gabah Kering Panen (GKP).

"Pola tanam di Desa Klotok sebelum adanya HIPPA adalah padi, palawija yang pada 1979 dan 1980-an produksi padinya masih sangat rendah, hanya berkisar 2,5 ton sampai 3,5 ton per ha. Ini karena pengairannya masih mengandalkan tadah hujan," imbuh dia.

Dia menambahkan, air baku yang dimanfaatkan pada waktu itu berasal dari jaringan irigasi Beron yang ada di Kecamatan Rengel. "Sumber air jaringan irigasi Beron sangat terbatas dan tidak mampu untuk mengairi seluruh wilayah layanannya," tutur Abdul.

Pembina HIPPA Subur Makmur, Purwanto mengakui, awalnya HIPPA Subur Makmur pada 1991 mendapatkan bantuan berupa pompa air, rumah pompa, dan modal kerja sebesar Rp30 juta yang digunakan untuk operasional termasuk bahan bakar. Sayangnya pompa air yang berada dalam tanah, tepian Sungai Bengawan Solo, sering terendam saat air sedang tinggi, sehingga membuat pompa tersebut rusak.

"Akhirnya timbul ide untuk mencari hutang dalam bentuk sapi dengan suku bunga, kalau Rp1 juta dalam satu bulan, maka bayarnya Rp1,5 juta. Setelah dijalani, dalam waktu satu kali musim panen hutang terlunasi. Bahkan masih menyisakan dana untuk operasional tanam berikutnya," jelas dia.

Pada 2000, akhir HIPPA Subur Makmur sudah bisa mandiri dengan memiliki tiga pompa pengambilan air utama di tepian Bengawan Solo. "Di 25 titik tertentu kita letakkan pompa imbal," ungkap Purwanto.

Dalam perkembangannya, pada 2011 dilakukan alih teknologi dari BBM ke tenaga listrik dengan biaya Rp744 juta. Sejalan dengan itu, wilayah kerja meluas. Jika pada 1991 hanya mampu mengairi 150 ha, kini HIPPA Subur Makmur mampu mengairi 638 ha lahan, dari 1.905 petani anggota.

"Seiring dengan itu, pola tanam disesuaikan, yakni padi-padi-bero. Saat kondisi tanah bero, saatnya melakukan perbaikan mesin, pembersihan saluran irigasi, dan tidak melakukan tanam padi hingga tiga. Ini selain untuk menjaga kesuburan tanah, juga untuk menghindari permainan harga saat panen raya," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementan Dorong Generasi...
Kementan Dorong Generasi Milenial Terjun di Bidang Pertanian
Pelaku Pemalsuan Pestisida...
Pelaku Pemalsuan Pestisida Dapat Dihukum Maksimal
Kementan Ajak Petani...
Kementan Ajak Petani dan Penyuluh Manfaatkan Bahan Organik
Antisipasi Kekeringan,...
Antisipasi Kekeringan, Masa Tanam Kedua Padi Dipercepat Mei
Antisipasi Krisis Pangan,...
Antisipasi Krisis Pangan, Pemerintah Akan Buka Lahan Sawah 900 Ribu Hektare
Petani Maros Giatkan...
Petani Maros Giatkan On Farm dengan Tanam Cabai Organik
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
5 jam yang lalu
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
6 jam yang lalu
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
7 jam yang lalu
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
7 jam yang lalu
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
7 jam yang lalu
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
8 jam yang lalu
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved