Rupiah Berakhir Mendatar di Tengah Kejayaan USD
Jum'at, 28 Oktober 2016 - 17:25 WIB
Rupiah Berakhir Mendatar di Tengah Kejayaan USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup masih betah di kisaran level Rp13.040/USD. Pelemahan mata uang Garuda tersebut di tengah semakin menguatnya USD terhadap beberapa mata uang dunia lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg sore ini, rupiah ditutup pada level Rp13.051/USD atau memburuk dibanding penutupan kemarin di level Rp13.033/USD. Sedangkan pada hari ini rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.038-Rp13.080/USD.
Menurut data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah berakhir di posisi Rp13.055/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah semakin melemah dari posisi sebelumnya di level Rp13.020/USD.
Begitu juga dengan data Yahoo Finance, menunjukkan rupiah masih tertekan ke level Rp13.041/USD dibanding penutupan kemarin di level Rp13.032/USD. Rupiah hari ini bergerak dengan kisaran harian Rp13.025-Rp13.062/USD.
Posisi rupiah kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah sepanjang hari tertahan di level Rp13.048/USD. Posisi ini tercatat tidak lebih baik dari posisi kemarin di level Rp13.027/USD.
Dilansir Reuters, Jumat (28/10/2016) USD melonjak ke posisi tertinggi dalam tiga bulan terhadap yen pada akhir pekan, untuk berada dalam trek keuntungan dalam sebulan terhadap beberapa mata uang utama. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- terjadi ketika investor masih menanti pengumuman data pertumbuhan AS pada kuartal ketiga sore ini.
Angka tersebut diyakini akan memberikan kesempatan buat Bank Sentral AS alias The Fed untuk menilai perekonomian AS, untuk kemudian meningkatkan peluang menaikkan kembali suku bunga acuan (Fed rate) pada Desember ini. Hasil data pertumbuhan AS juga bisa membantu meyakinkan pasar saham, dan berimbas saat USD lawan Yen Jepang.
Dalam survei yang digelar Reuters, diprediksi data PDB kuartal ketiga AS akan ada peningkatan pertumbuhan 2,5% dari 1,4% dibandingkan kuartal sebelumnya. "Kami berharap di level 2,9% untuk kuartal tahunan," terang Kepala Strategi Mata Uang Commerzbank Antje Praefcke.
USD tercatat naik 0,1% pada perdagangan London lawan yen ke level 105.42, untuk menjadi yang tertinggi sejak Juli. Kenaikan tersebut dipredikssi setelah adanya peningkatan optimisme akan adanya kenaikan suku bunga pada Desember, mendatang. Peningkatan bond AS membantu meningkat USD dalam beberapa pekan terakhir saat greenback bertambah 3,7% terhadap yen sepanjang bulan ini dengan keuntungan terbesar sejak Mei.
Di sisi lain euro berakhir lebih tinggi terhadap USD menjadi 1.0916, namun turun hampir mencapai 3% dalam satu bulan. Fokus Eropa saat ini mengarah pada data inflasi Jerman dan Prancis yang akan memberikan pentunjuk terkait inflasi zona euro.
Berdasarkan data Bloomberg sore ini, rupiah ditutup pada level Rp13.051/USD atau memburuk dibanding penutupan kemarin di level Rp13.033/USD. Sedangkan pada hari ini rupiah bergerak pada kisaran harian Rp13.038-Rp13.080/USD.
Menurut data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah berakhir di posisi Rp13.055/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah semakin melemah dari posisi sebelumnya di level Rp13.020/USD.
Begitu juga dengan data Yahoo Finance, menunjukkan rupiah masih tertekan ke level Rp13.041/USD dibanding penutupan kemarin di level Rp13.032/USD. Rupiah hari ini bergerak dengan kisaran harian Rp13.025-Rp13.062/USD.
Posisi rupiah kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah sepanjang hari tertahan di level Rp13.048/USD. Posisi ini tercatat tidak lebih baik dari posisi kemarin di level Rp13.027/USD.
Dilansir Reuters, Jumat (28/10/2016) USD melonjak ke posisi tertinggi dalam tiga bulan terhadap yen pada akhir pekan, untuk berada dalam trek keuntungan dalam sebulan terhadap beberapa mata uang utama. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam -julukan AS- terjadi ketika investor masih menanti pengumuman data pertumbuhan AS pada kuartal ketiga sore ini.
Angka tersebut diyakini akan memberikan kesempatan buat Bank Sentral AS alias The Fed untuk menilai perekonomian AS, untuk kemudian meningkatkan peluang menaikkan kembali suku bunga acuan (Fed rate) pada Desember ini. Hasil data pertumbuhan AS juga bisa membantu meyakinkan pasar saham, dan berimbas saat USD lawan Yen Jepang.
Dalam survei yang digelar Reuters, diprediksi data PDB kuartal ketiga AS akan ada peningkatan pertumbuhan 2,5% dari 1,4% dibandingkan kuartal sebelumnya. "Kami berharap di level 2,9% untuk kuartal tahunan," terang Kepala Strategi Mata Uang Commerzbank Antje Praefcke.
USD tercatat naik 0,1% pada perdagangan London lawan yen ke level 105.42, untuk menjadi yang tertinggi sejak Juli. Kenaikan tersebut dipredikssi setelah adanya peningkatan optimisme akan adanya kenaikan suku bunga pada Desember, mendatang. Peningkatan bond AS membantu meningkat USD dalam beberapa pekan terakhir saat greenback bertambah 3,7% terhadap yen sepanjang bulan ini dengan keuntungan terbesar sejak Mei.
Di sisi lain euro berakhir lebih tinggi terhadap USD menjadi 1.0916, namun turun hampir mencapai 3% dalam satu bulan. Fokus Eropa saat ini mengarah pada data inflasi Jerman dan Prancis yang akan memberikan pentunjuk terkait inflasi zona euro.
(akr)