Market Dalam Negeri Panik saat Donald Trump Unggul
Jum'at, 04 November 2016 - 14:20 WIB
Market Dalam Negeri Panik saat Donald Trump Unggul
A
A
A
JAKARTA - Calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sempat unggul dalam polling sementara pemilihan suara, membuat ketidakpastian market dalam negeri beberapa hari terakhir. Bahkan, beberapa mata uang negara regional sempat mengalami depresiasi meskipun tidak terlalu besar.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, meskipun polling tersebut baru berdasarkan satu lembaga. Namun, namun efeknya hingga menyebar ke market.
"Kemarin kita dapat berita tentang polling terakhir di AS bahwa Trump unggul. Itu juga yang membuat dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Makannya itu menyebar dan market panik. Mata uang regional juga kena imbas," katanya kepada Sindonews, Jakarta, Jumat (4/11/2016).
Bahkan, saat ini pasar regional termasuk Indonesia banyak yang mencari aman dengan lari ke save heaven seperti dolar AS atau ke bond obligasi milik AS. "Mereka cari aman untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak berkelanjutan kalau Trump unggul terus," katanya.
Maka, Josua mengatakan, efek dari isu global yang sekarang berkembang menjadi pemicu terbesar rupiah melemah dari kemarin. Ini juga dialami oleh mata uang negara regional.
"Tapi tetap, kita tidak bisa mendisagregasi faktor dari globalnyakah yang banyak atau dari domestik saja. Karena masing-masing punya andil. Hari ini tidak ada demo pun, saham, rupiah juga memang sedang merah," pungkasnya.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, meskipun polling tersebut baru berdasarkan satu lembaga. Namun, namun efeknya hingga menyebar ke market.
"Kemarin kita dapat berita tentang polling terakhir di AS bahwa Trump unggul. Itu juga yang membuat dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Makannya itu menyebar dan market panik. Mata uang regional juga kena imbas," katanya kepada Sindonews, Jakarta, Jumat (4/11/2016).
Bahkan, saat ini pasar regional termasuk Indonesia banyak yang mencari aman dengan lari ke save heaven seperti dolar AS atau ke bond obligasi milik AS. "Mereka cari aman untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak berkelanjutan kalau Trump unggul terus," katanya.
Maka, Josua mengatakan, efek dari isu global yang sekarang berkembang menjadi pemicu terbesar rupiah melemah dari kemarin. Ini juga dialami oleh mata uang negara regional.
"Tapi tetap, kita tidak bisa mendisagregasi faktor dari globalnyakah yang banyak atau dari domestik saja. Karena masing-masing punya andil. Hari ini tidak ada demo pun, saham, rupiah juga memang sedang merah," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :